Monday, 27 March, 2017 - 03:05

Serangan DBD di Poso Meluas

Salah satu pasien yang terserang DBD dirawat di RSUD Poso. (Foto : Wawan)

Poso, Metrosulawesi.com - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang semakin mengkhawatirkan saat ini di wilayah Poso, membuat Dinas Kesehatan Kabupaten Poso menetapkan DBD sebagai status kondisi luar biasa (KLB), menyusul meningkatnya kasus dalam empat bulan terakhir yang mencapai 153 kasus, hingga tiga orang meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Poso, dr. Djani Moula mengatakan, penyebaran penyakit DBB di Poso sudah dikategorikan masuk KLB. Menurutnya, selain penyebaran yang sudah mencapai 8 wilayah di kecamatan, saat ini virus nyamuk jenis Aedes Aegypti dinilai telah kebal dari cairan voging atau abate. Bahkan penyebarannya selain di tempat genangan air, virus tersebut telah sampai ke wilayah pegunungan.

"Ini wabah DBD di Poso sudah luar biasa, kita sudah berupaya melakukan penanganan secara maksimal baik Dinas dan pihak Rumah Sakit, akan tetapi tetap saja terus meningkat," ujar Djani Moula belum lama ini.

Djani menambahkan, saat ini terdapat 153 jumlah kasus DBD yang ada dan sedang dalam penanganan. Seluruhnya berada di 8 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Poso, yakni Kecamatan Poso Kota, Poso Kota Utara, Poso Kota Selatan, Poso Pesisir Bersaudara dan Lage.

Kekhawatiran penyebaran virus nyamuk jenis Aedes Aegypti tersebut akibat munculnya nyamuk jenis varian baru yang kebal terhadap jenis obat-obatan seperti voging qatau abate.

"Semua lokasi yang menjadi endemis nyamuk Aedes Aegypti sebelumnya sudah disemprot, tapi dalam beberapa bulan terakhir penyebaran penyakit DBD di lokasi yang sama masih juga terjadi," jelasnya lagi.

Terkait kondisi ini, pihak Dinkes Poso mengharapkan pemerintah tingkat provinsi secepatnya menyikapi penyebaran penyakit DBD di Poso yang kondisinya sudah ditetapkan sebagai KLB. Bahkan diharapkan masyarakat setempat yang bermukim di sekitar wilayah endemis diimbau agar proaktif dalam melakukan kegiatan pembersihan sarana lingkungan, termasuk menjaga kemungkinan adanya genangan air sebagai sarana perkembangan nyamuk Aedes Aegypti.


Editor : Subandi Arya

Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.