Saturday, 20 January, 2018 - 03:39

Setengah Siswa Keracunan sudah Pulih

PEMBERIAN KETERANGAN - Kepala Balai POM Safriansyah, bersama Sekretaris Dinkes Palu Ilham, dan Ombudsman RI Perwakilan Sulteng dan Kepala SDIT Al Fahmi Palu Rahmawati Ottoluwa, saat menyampaikan keterangan kepada wartawan, Selasa 5 Desember. (Foto : Moh Fadel/ Metrosulawesi)

BPOM: Uji Sample Dilakukan Selama 2 Minggu

Palu, Metrosulawesi.com - Setengah dari jumlah siswa SDIT Al Fahmi Palu yang keracunan nasi goreng sudah membaik, Selasa 5 Desember 2017. Mereka sudah dibolehkan kembali oleh pihak rumah sakit setelah menjalani perawatan.

“Jika dipersentasekan sekitar 50 persen siswa kami telah keluar dari RS dan telah membaik,” kata Kepala SDIT Al Fahmi Palu, Rahmawati Ottoluwa kepada wartawan, Selasa 5 Desember 2017.

Seperti diketahui, seratusan siswa SDIT Al Fahmi mengalami mual dan muntah-muntah setelah menyantap nasi goreng yang dibagikan pihak sekolah. Mereka terpaksa dilarikan hampir semua rumah sakit di Palu.

Rahmawati mengatakan, akibat memakan nasi goreng itu tidak hanya siswa yang mengalami keracunan. Guru-guru juga mengalami kasus serupa.

“Ada tujuh guru yang sempat keracunan. Hanya satu guru yang dirawat di rumah sakit, sebagian dirawat di unit kesehatan sekolah karena tidak terlalu parah. Saat ini para guru itu, alhamdulillah sudah membaik,” kata Rahmawati.

Data yang dihimpun oleh pihak sekolah kata Rahmawati, siswa yang dirawat di rumah sakit sebanyak 155 orang.

“Kami dari pihak sekolah bertangung jawab untuk menanggung semua biaya pengobatan bagi siswa yang tidak memiliki BPJS. Intinya para orangtua siswa tidak boleh keluar uang,” katanya.

Rahmawati mengatakan jenis makan yang dimakan oleh siswa adalah nasi goreng ayam, krupuk, semangka, kue pisang coklat. Pemberian makanan ini setiap hari pada waktu siang memang dilakukan oleh pihak sekolah, karena sekolahnya mengikuti program Full Day School.

“Makanan ini dikelola oleh tim cetthering pihak sekolah dan pegawainya dari yayasan, saya menegaskan bukan guru yang membuat makanan itu,” imbuhnya.

Kejadian keracunan makanan ini kata Rahmawati, baru pertama kalinya terjadi di sekolahnya, sehingga pihak sekolah menganggap ini musibah, karena biasanya tidak ada yang mengalami seperti ini.

Pantauan Metrosulawesi, Selasa 5 Desember 2017, di SDIT Al Fahmi yang berada salah satu lorong Jalan Prof Muh Yamin Palu tampak sepi. Sesaat setelah musibah itu terjadi, pihak sekolah memang telah mengumumkan, meliburkan siswa dari kegiatan belajar mengajar selama dua hari. Saat Metrosulawesi memantau terlihat pihak kepolisian Polda Sulteng, juga ikut melakukan indentifikasi di dapur atau tempat masak di sekolah tersebut.

Terpisah Kepala Balai POM (Pengawaan Obat dan Makanan) Palu, Safriansyah mengaku semua sample pangan mulai dari nasi goreng, lauk, saus termasuk sample muntah sementara diuji. Hasil dari pengujiannya membutuhkan waktu selama dua minggu.
 
Safriansyah mengatakan, kenapa waktu pengujianya lama? Karena uji sample mikroba berbeda dengan bahan kimia, bahkan kimia menurutnya lebih cepat dibandingkan mikroba. 

“Oleh karena itu saya belum dapat menyimpulkan jenis bakteri yang mengontaminasi pangan itu, kita menunggu masa inkubasi kuman. Artinya kita menunggu kumannya hidup kembali untuk menegakkan jenis kuman dan itu membutuhkan waktu relafit panjang,” jelasnya.

Sekretaris Dinkes Palu Ilham mengatakan juga masih menunggu hasil dari uji lab tersebut, kemudian menunggu perkembangan laporan dari tim ivestigasi yang dibentuk oleh Dinkes Palu.

“Saat ini tim kami masih berada di lapangan, mencari penyebab apakah bakteri itu datang dari luar atau dari dalam lingkungan sekolah, ini yang sementara ditelusuri. Untuk itu kita tunggulah hasi uji lab yang dilakukan oleh BPOM,” katanya.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.