Sunday, 17 December, 2017 - 15:56

Sikola Mombine dan Kiprahnya Memberdayakan Perempuan

Direktur Sikola Mombine, Mutmainah Korona. (Foto : Surahmanto S/ Metrosulawesi)

Menciptakan Perempuan Melek Politik dan Ekonomi

Sikola Mombine Institute tidak hanya sekadar mendidik dan memberikan wawasan kaum perempuan terhadap politik. Lembaga yang didirikan 22 Februari 2015 lalu itu, juga mendorong kaum hawa di bidang ekonomi.

DIREKTUR Sikola Mombine, Mutmainah Korona, mengatakan, Sikola Mombina kini melakukan aktivitas pergerakan keperempuanan dengan masuk hingga ke pelosok desa untuk mengembangkan ekonomi masyarakat desa, dan menciptakan pemimpin-pemimpin perempuan.

“Dengan upaya ini kami berharap mereka bisa bersaing pada kontestasi politik,” kata Mutmainah kepada Metrosulawesi, Rabu 8 Februari 2017.

Ditemui di kantornya, Mutmainah mengatakan, Sikola mombine Institute adalah organisasi non pemerintah dan non profit yang didirikan di Palu dua tahun lalu. Pada awal berdirinya, Sikola Mombine merupakan rekomendasi dari sebuah Musyawarah Besar Sikola Mombine pada tanggal 19 – 21 Februari 2015.

Sebelumnya katanya, Sikola Mombine merupakan sebuah laboratorium pendidikan kepemimpinan politik perempuan di bawah binaan organisasi Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Sulawesi Tengah sejak tahun 2009.

“Awalnya kami berdiskusi panjang sejak tahun 2005 sudah memiliki planning untuk menghadirkan pemimpin-pemimpin perempuan. Masuk pada tahun 2006, kami intens membahas isu tentang mendorong gerakan perempuan dalam partisipasi dan keterwakilan perempuan di parlemen,” ungkap Mutmainah.

Dalam perjalanannya katanya, sebagian masyarakat mempertanyakan kemampuan kepemimpinan perempuan.

“Atas alasan inilah kami termotivasi untuk membuat sekolah perempuan. Akhirnya di tahun, 2009 terbentuklah Sikola Mombine saat masih dalam binaan KPPA,” lanjut Mutmainah yang akrab disapa Kak Neng itu.

Waktu terus berjalan. Hingga pada tahun 2012, atas hasil Musyawarah Besar Sikola Mombine mengeluarkan rekomendasi untuk organisasi ini menggunakan nama Sikola Mombine Institute.

Kak Neng mengungkapkan, nama Sikola Mombine digunakan untuk memperkenalkan budaya lokal agar supaya masyarakat Indonesia bisa mengenal kearifan lokal Sulawesi Tengah dengan menyebutkan Sikola Mombine, yang berarti Sekolah Perempuan. Secara otomatis sudah memperkenalkan budaya lokal Sulawesi Tengah kepada masyarakat Indonesia.

Sikola Mombina memiliki visi “Perempuan menjadi aktor perubahan sosial politik untuk mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat Indonesia yang berdaulat, adil, mandiri dan demokratis.”

Sikola Mombine mejelma menjadi organisasi yang melahirkan pemimpin perempuan yang berkualitas agar dapat berdaya untuk bisa berkontribusi kepada daerah dan negara.
Perjalanan Sikola Mombine terus berkembang dan melahirkan sekitar 500 alumni dan tidak hanya sekadar belajar di komunitas, namun juga membuat sebuah strategi dalam pengembangan pendidikan dan pengorganisasian para alumni belajar. Termasuk inovasi praktek cerdas yang dilakukan oleh perempuan.

Beberapa program dilakukan Sikola Mobine di antaranya Balai Belajar Kampung. Yaitu, pengembangan balai belajar perempuan di kampung dengan mendekatkan pada pendidikan strategis dan taktis.

Program lainnya adalah pengembangan ekonomi perempuan. Yaitu berupa kegiatan pengembangan usaha perempuan berbasis kearifan dan potensi desa di sekitar.

Mutmainah mengatakan, program yang dilakukan ini adalah upaya untuk mengembangkan perempuan, bahkan ibu rumah tangga agar tidak hanya diam di rumah saat menunggu suaminya ketika sedang bekerja.

Anggaran Sikola Mombine berasal dari beberapa mitra kerja serta swadaya anggota Sikola Mombine.

Ibu tiga anak ini mengungkapkan,  Sikola Mombine bersinergi dengan Pemerintah desa untuk membangun kreativitas masyarakat desa dalam upaya mengolah sumber daya alam desa, yang berpotensi untuk dijadikan nilai jual sebagai pendapatan masyarakat desa.
 
“Kami berupaya agar desa yang dijadikan balai belajar kampung untuk mengalokasikan sebagian dana desa agar digunakan untuk melakukan program kreatif dalam hal memanfaatkan sumber daya alam yang potensi untuk dijadikan nilai jual bagi desa, bahkan mereka ada yang membiayai sendiri masing-masing kelas belajar mereka,” jelasnya.

“Kami menjadi fasilitator untuk menyediakan pemateri dalam hal melaksanakan program kegiatan, sehingga program yang dilakukan terus berjalan dan memberikan manfaat untuk masyarakat desa,” lanjutnya.

Hingga saat ini ada empat kabupaten dan satu kota di Sulawesi Tengah yang menjadi lokasi Sikola Mombine dalam melaksanakan kegiatannya. Yakni: kabupaten Parigi Mautong, Sigi, Donggala, dan Poso, serta Kota Palu.

Desa dan Kelurahan yang dijadikan balai belajar kampung adalah Kabupaten Poso desa Sa'atu, Kabupaten Donggala desa Tanjung Padang dan desa Bale, Kabupaten Sigi desa Sibowi, Kabupaten Parigi Moutong desa Lombok, Dusunan, Torue dan Sausu, Kota Palu Kelurahan Mamboro dan Palupi.

Sikola Mombine juga mendorong kader-kadernya pada hajatan politik seperti pemilihan kepala desa hingga Pilkada 2019 nanti, untuk merealisasikan visi yang sudah dicita-citakan.

Saat ini katanya, pihaknya fokus membangun desa dengan tagline “Pemuda Membangunan Desa”. Sasarannya, adalah setiap daerah yang dijadikan balai belajar kampung untuk fokus terhadap pangan.

“Banyak masyarakat desa yang memiliki tanah tapi tidak paham mengolah tanahnya, sehingga menjual kepada pemilik modal dan mereka menjadi buruh di tanah mereka sendiri. Upaya kedaulatan pangan harus dilakukan untuk kesejahteraan rakyat,” kata perempuan kelahiran tahun 1979 tersebut.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.

Berita Terkait