Sunday, 25 February, 2018 - 01:45

Sistem Logistik Ikan Nasional Akan Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan

Nelayan baru saja sampai dipantai setelah melaut. Foto: Didi Sadili/Flickr

Penerapan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) di Sulawesi Tengah mulai 2016 merupakan salah satu program prioritas untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan.

"Dengan SLIN, kesejahteraan nelayan bisa kita perbaiki," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah Hasanuddin Atjo di Palu, Kamis, ketika ditanya mengenai program unggulan DKP Sulteng pada 2016.

Salah satu tolok ukur kesejahteraan nelayan adalah nilai tukar nelayan yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan November 2015 tercatat 109,39, yang artinya pendapatan seorang nelayan sudah lebih tinggi dari biaya hidupnya sehingga sudah bisa menabung.

Ia menjelaskan bahwa salah satu persoalan di sektor perikanan di daerah ini adalah ketidakberimbangan antara produksi dan ketersediaan ikan.

Artinya, pada saat musim ikan, banyak hasil tangkapan nelayan yang tidak bisa dipasarkan dan ujung-ujungnya adalah harga anjlok. Di sini, para nelayan akan sangat dirugikan.

Keadaan sebaliknya terjadi saat musim ikan berlalu dan hasil tangkapan nelayan minim, harga ikan segera melonjak karena stok di pasaran langka. Pada posisi ini, konsumen akan sangat dirugikan, juga industri pengolahan akan mengalami kekurangan bahan baku. Saat harga ikan melonjak, inflasi akan terpengaruh naik dan ini mengganggu perekonomian dan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala misalnya, pada saat musim ikan, ikan jenis pelagis kecil bisa berharga hanya Rp8.000/kg sementara pada saat produksi langka, harga bisa melonjak sampai Rp25.000/kg. Karena itu, naiknya harga ikan ini sering menyebabkan inflasi di Kota Palu naik cukup tinggi.

"Jadi seperti ada sesuatu yang hilang di sini karena tidak stabilnya harga dan suplai ikan di pasar. Karena itu, pemerintah perlu melakukan intervensi, dan hal itu dilakukan dengan mengimplementasikan SLIN, sebuah program unggulan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sudah lama dicanangkan," ujarnya.

SLIN akan menampung stok ikan nelayan dengan harga yang wajar saat musim ikan, lalu stok itu akan disalurkan ke pasar dan industri saat ikan langka. Dengan demikian, suplai ikan akan terjaga dan harga tidak akan mengalami ketimpangan yang terlalu lebar saat produksi menurun, sehingga konsumen dan industri tidak dirugikan serta inflasi bisa dikendalikan, ujarnya.

Dinas KP Sulteng, kata Hasanuddin Atjo, sudah menyiapkan PPI Donggala dan Pelabuhan Perikanan Pantai Ogotua, Kabupaten Tolitoli, untuk menjadi pilot proyek implementasi SLIN mulai 2016 yang pada tahap awal akan mengirim ikan mentah ke pabrik-pabrik di Jakarta dan Surabaya, dan selanjutnya akan mengirim dalam bentuk olahan.

Kedua pelabuhan itu sudah dilengkapi dengan berbagai sarana dan fasilitas seperti dermaga yang diberi atap, tempat pelelangan ikan, pergudangan, pabrik es balok, gudang pendingin, gudang pembekuan ikan, sarana air bersih, listrik, stasiun bahan bakar untuk nelayan, mess nelayan, koperasi, sarana kesehatan.

Khusus di PPI Donggala, kini sudah memiliki pabrik pengolahan ikan tuna dalam skala mini sehingga memungkinkan ekspor langsung ikan tuna dari Kota Palu bila cargo pesawat udara tersedia secara rutin dengan daya tampung yang memadai serta harga bersaing.

Sumber: Antara

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.