Monday, 1 May, 2017 - 04:58

Error message

  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).

Siswa SMAN 3 Palu Keluhkan Pungutan UNBK

Siswa SMAN 3 Palu saat mengikuti simulasi III UNBK di ruangan laboratorium sekolah. (Foto : Moh Fadel/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Sejumlah siswa SMA Negeri 3 Palu mengeluhkan kebijakan pungutan yang dibebankan kepada mereka. Kebijakan membebankan biaya Rp40 ribu per mata pelajaran kepada siswa yang tidak memiliki laptop untuk mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) diluar sekolah, yakni Univesitas Tadulako dan SMKN 3 Palu menurut mereka cukup memberatkan.

“Kata pihak sekolah, kalau memang siswa tidak ada laptop, berarti kami siswa akan mengikuti UNBK di luar sekolah, yaitu di Untad dan STM, dan kami juga diminta untuk membayar dengan per satu mata pelajaran Rp40 ribu. Jika ditotalkan empat mata pelajaran UNBK, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, semuanya Rp120 ribu yang harus dibayar per siswa,” katanya di Palu, Selasa, 14 Maret 2017.

Dia mengatakan biaya yang dibebankan tersebut, menurut pihak sekolah, untuk dibayarkan kepada  pengawas ujian.

“Kami mengharapkan jika sekolah ingin sekali melaksanakan UNBK, tentunya lakukan persiapan lebih baik lagi, sehingga tidak dibebankan ke siswa. Kami hanya tahu ujian saja, dan mempersiapkan untuk belajar mengikuti UNBK,” ujarnya.

Kata dia, teman-temannya yang lain juga mengeluh, namun tidak berani mengungkapkannya ke pihak sekolah.

Dirinya merasa rugi talah membayar uang komite ke sekolah, namun fasilitas siswa tidak tersedia.

“Tidak mungkin kita sudah membayar, kita bayar kembali lagi. Orang tua kami juga sementara mencari nafkah untuk kita, ” katanya.

Menurutnya, pihak sekolah terlalu memaksakan untuk menggelar UNBK.

“Kemudian para siswa disuruh pinjam laptop keluarga, ini sangat tidak mungkin, karena laptop itu pasti diprogram dan dipakai sekolah untuk UNBK. Sementara jika rusak, siapa yang bertangung jawab, pasti kita yang meminjam laptop tersebut, sehingga ini terlalu memaksakan siswa,” ujarnya.

Dia mengatakan sekitar puluhan lebih siswa kelas III mengeluh karena kebijakan sekolah tersebut.

“Saya menginginkan sekolah, jika bisa, yang mempunyai laptop di silahkan pertama masuk mengikuti UNBK, kemudian yang tidak mempunyai laptop, masuk pada sesi kedua atau ketiga, sehingga kami tidak mengikuti UNBK di tempat lainnya, karena Untad itu cukup jauh,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 3 Palu saat di konfirmasi, tidak mau memberikan komentar karena berbagai alasan.

“Jangan dulu yah pak, Kepsek belum mau di wawancara, karena masih ada kesibukan,” ungkap salah satu guru.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Irwan Lahace juga masih enggan berkomentar.

“Saya masih di Jakarta, saya mau klarifikasi dulu dengan kepsek SMAN 3 Palu dan Kabid Pendis, sehingga saya belum bisa memberikan tanggapan soal itu,” katanya melalui ponselnya.


Editor : M Yusuf BJ

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.