Friday, 20 April, 2018 - 22:30

Siswi SD di Poso Diperkosa, Peringatan Bagi Orangtua

SOSIALISASI - Evi Tampakatu, Kordinator RPPA Mosintuwu saat melakukan sosialisasi kepada anak. (Foto: Ryan Darmawan/ Metrosulawesi)

Poso, Metrosulawesi.com - Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (RPPA Mosintuwu) Kabupaten Poso mengecam perkosaan terhadap seorang siswi SD berumur 13 tahun oleh 4 pelaku yang terjadi di wilayah Kecamatan Poso Pesisir Utara. Tindakan itu menambah daftar panjang kekerasan seksual yang menimpa anak-anak di Poso.

Koordinator RPPA Mosintuwu Evi Tampakatu kepada Metrosulawesi mengatakan, masyarakat perlu mengetahui apa saja bentuk ancamanan terhadap tubuh anak. Selain itu, masyarakat juga perlu mengkampanyekan gerakan anti kekerasan seksual dan memberikan perlindungan kepada anak. Hal ini bisa dimulai dengan memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka tentang bagian tubuh yang rentan menjadi sasaran pelaku kekerasan.

“Saat ini diperlukan upaya yang lebih luas dan terus menerus untuk melakukan sosialisasi dan pentingnya pemahaman tubuh anak kepada orangtua dan juga kepada anak agar kita mengetahui bagaimana melakukan langkah pencegahan dengan mengenali gejalanya,” kata Evi, Rabu 4 April 2018.

Evi menambahkan, para orang tua juga harus membekali anaknya untuk berani melawan siapapun yang menyentuh bagian terlarang untuk disentuh dari tubuh anak.

Selain itu anak juga diberi pengetahuan tentang cara meminta tolong atau bantuan kepada orang yang lebih dewasa ketika mengalami kekerasan.

“Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalkan terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak selain sosialisasi kepada anak-anak juga peningkatan pengawasan mulai dari rumah hingga di lingkungan sekitar,” tambahnya.

RPPA Mosintuwu, kata Evi melakukan pencegahan terjadinya kasus kekerassan seksual dengan melakukan sosialisasi pencegahan ke rumah ibadah, sekolah hingga komunitas.

Langkah tersebut sangat penting untuk memberikan pengetahuan kepada orang tua dan anak-anak tentang tanda atau gejala bagaimana tindak kekerasan biasanya dimulai.

“Sosialisasi sudah kami lakukan ke beberapa desa di pinggiran danau Poso hingga ke kecamatan Lage. Saat ini diperlukan upaya yang lebih luas dan terus menerus untuk melakukan sosialisasi dan pentingnya pendidikan seksual terhadap orang tua dan anak agar kita mengetahui bagaimana melakukan langkah pencegahan dengan mengenal gejalanya,” ungkap Evi.

Sebelumnya, seorang siswi SD berumur 13 tahun diperkosa hingga hamil oleh 4 orang pelaku. Keempat pelaku adalah A, D, A dan F diantara ke empat pelaku ini, D yang disebut paling sering memperkosa korban. D juga adalah pelaku yang usianya sudah dewasa yakni 18 tahun.

Sementara itu kepada wartawan di Poso, Selasa 4 April 2018, Kapolres AKBP Bogiek Sugiyarto mengatakan, kasus ini sedang ditangani oleh unit PPA Polres Poso.

Laporan yang diterima Polisi pada 26 Maret lalu, disebutkan oleh kapolres bahwa proses hukumnya akan menggunakan undang-undang perlindungan anak yakni Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.


Editor: Syamsu Rizal