Saturday, 21 October, 2017 - 21:46

SMA Negeri Model Terpadu Madani: PLS Membentuk Karakter Siswa Baru

Para siswa baru mengikuti kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) di SMA Negeri Model Terpadu Madani Palu, Rabu 20 Juli 2016. (Foto : Moh Fadel Yalinawa/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri Model Terpadu Madani, Aris Arianto mengatakan masa Pengenalan Lingkungan bertujuan membentuk karakter siswa baru.

“Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) untuk membina karakter siswa bagaimana siswa baru tersebut, mengenal cara belajar di sekolah itu seperti apa, aturan–aturan di sekolah itu seperti apa, sehingga ketika mulainya proses belajar mengajar mereka sudah mengetahui situasi di sekolah ini seperti apa,” katanya di Palu, Rabu 20 Juli 2016.

Aris mengatakan pihaknya akan segera memulai proses belajar mengajar usai PLS. 

“Di sekolah kami kegiatan PLS 15-20 Juli 2016. Hari ini terakhir pelaksanaan PLS. Insya Allah mulai 21 Juli para siswa baru mulai aktif belajar di kelas,” jelasnya.

Aris mengungkapkan dalam PLS kali ini yang diikuti 151 siswa-siswi, pihaknya lebih banyak memberikan materi pengenalan lingkungan sekolah.

“Siswa baru diajarkan untuk bisa menata lingkungan sekolah dengan baik dan bersih, menanam pohon dan membersihkan sampah yang berserakan baik itu di sekolah maupun di luar sekolah,” ungkapnya.

Menurutnya, karakter siswa baru harus dibimbing dengan baik dan benar.

“Karakter siswa baru harus di bimbing secara baik, sehingga ketika masuk di sekolah, bisa menjadi siswa yang sopan, saling menghormati satu dengan yang lain. Karena materi di PLS semuanya ada di tata krama dan tata tertib sekolah, inilah salah satu pembinaan karakter di PLS,” katanya.

Aris menambahkan peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Rebuplik Indonesia Nomor 18 tahun 2016 yang tidak memperbolehkan perpeloncoan pada Massa Orientasi Siswa (MOS) atau PLS sangat bagus, karena menghilangkan tindak kekerasan yang dapat terjadi siswa baru.

“Di sekolah kami ini, dari dulu sampai sekarang tidak ada yang namanya perpeloncoan, semua aman-aman saja. Contohnya sekarang, tidak ada yang memakai topi kerucut, tas plastik, dan alat–alat lainya. Itu semua dihilangkan. Mereka semua cuma memakai tanda pengenal nama yang di jepit di baju sekolah,” ujarnya.

Aris mengatakan guru sangat aktif terlibat pada PLS yang dilaksanakan pihaknya.

“Para siswa senior atau anggota OSIS hanya membantu guru saja. Kita menyediakan enam kelas sehingga siswa senior dilibatkan di setiap kelas untuk membantu guru dalam proses kegiatan PLS, dan guru–gurulah yang mengkordinir semua kegiatan PLS tersebut,” jelasnya.

“Semoga siswa yang masuk ini, mendapatkan pemahaman dan manfaat di kegiatan PLS ini, agar ketika masuk sekolah bisa terbiasa atau tidak ragu-ragu lagi untuk masuk ke sekolah, karena sudah mengetahui tetang situasi lingkungan sekolahnya,” ungkapnya.


Editor : M Yusuf BJ

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.