Saturday, 24 February, 2018 - 12:48

Sopir dan Kenek Penangkap Kera di Kebun Kopi Diberi Teguran Keras

SATWA DILINDUNGI - Kera Hitam Sulawesi (Macaca Tongkeana), yang hidup bebas di hutan jalur Trans Sualwesi, kebun Kopi. (Foto: Eddy/ Metrosulawesi)

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng langsung bertindak cepat, sesaat setelah sebuah video penangkapan kera hitam Sulawesi (Macaca Tongkeana), viral di media sosial beberapa hari terakhir ini. Penangkapan yang dilakukan sejumlah oknum menggunakan mobil itu ternyata terjadi pada Desember 2017 lalu.
 
KEPALA  BKSDA Sulteng, Ir.Noel Layuk Allo dalam jumpa pers Kamis 25 Januari 2018 menyebutkan, setelah pihaknya menyelidiki dan berhasil menemukan para pelaku, pihaknya meminta keterangan kepada para pelaku, yakni kepada sopir yang bernama Ibrahim alias Bora, dan pelaku tersebut mengakui kejadian itu terjadi pada tanggal 21 Desember 2017 lalu.

“Kejadiannya Desember tahun lalu, di KM 15, poros Toboli-Palu, tepatnya di Desa Toboli Barat, dan itu terbukti dengan rekaman dari mereka sendiri,” tambanya.

Noel Layuk Allo juga menjelaskan bahwa pihak BKSDA Sulteng, tidak memberikan sanksi atau hukuman khusus kepada sopir mobil yang diketahui merupakan mobil pengantar ayam potong, yang sempat viral di media sosial itu, dan hanya memberikan teguran keras dan peringatan kepada sopir tersebut beserta keneknya.

“Kami sudah memberikan teguran tegas kepada si Bora ini, tidak langsung memberikan sanksi atau hukuman, tetapi dilakukan pembinaan. Dia sudah membuat pernyataan, untuk tidak lagi melakukan perbuatan itu, karena merugikan, baik bagi satwa maupun bagi masyarakat di sekitar,” kata Noel.

Kepala BKSDA Sulteng itu juga menjelaskan, pada saat dimintai keterangan Bora mengaku tidak punya niat untuk mencuri satwa yang dilindungi negara itu.

Bora seperti dikutip Noel, tidak berniat untuk mengambil kera hitam tersebut, hanya sekadar bersenang-senang memberi makan.

“Tapi tiba-tiba seekor monyet naik ke atas pemuatan ayam. Karena panik, Bora dan teman-temannya langsung pergi karena dikejar oleh beberapa ekor kera lainnya,” kata Noel.

“Kera hitam tersebut rupanya langsung dilepas sesaat setelahnya, karena ada mobil teman mereka yang ditahan oleh para pekerja jalan. Sopirnya juga sudah meminta maaf kepada para pekerja,” sebut Noel.

Ke depan, Noel mengaku akan melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan pengawasan terhadap wilayah konservasi sekitar jalur Kebun Kopi, yang masuk dalam wilayah cagar alam Pangi Binanga. Di antaranya terus melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat, terutama yang sering melalui jalur tersebut. Salah satunya, dengan memasang papan informasi kepada masyarakat, untuk berhati-hati karena banyak satwa yang menyeberang jalan, serta peringatan untuk tidak menyakiti satwa di kawasan tersebut.

“Mungkin juga nanti kita membuat semacam pos penjagaan. Tapi ini agak susah, karena terus terang staf BKSDA Sulteng jumlahnya hanya sekitar 78 orang, tapi Polhutnya (Polisi Hutan-red) hanya 32 orang, dan itu tersebar di semua Sulteng. Satu-satunya jalan, ya kita bekerja sama dengan masyarakat, mudah-mudahan masyarakat mau menerima dan membantu kami,” tegasnya.

Seperti yang diketahui, terdapat tujuh jenis macaca yang habitat aslinya hanya terdapat di Sulawesi. Ke tujuh macaca endemik ini diantaranya adalah Macaca Maura dengan habitat di Sulawesi Selatan, Macaca Tonkeana di Sulawesi Tengah, Macaca Heckidi Sulawesi Tengah-Utara, Macaca Nigrescens di daerah dekat Gorontalo dan Bolaang mongondow, Macaca Nigra di Sulawesi Utara, Macaca Ochreata di Sulawesi Tenggara dan Macaca Brunnescens di Pulau Muna dan Buton.


Editor: Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.