Tuesday, 21 August, 2018 - 06:36

Suami Suka “Jajan”, Istri Kena HIV/AIDS

“Hubungan seksual berganti-ganti kini sudah merambah ke pedesaan, ini yang harus menjadi perhatian agar ibu-ibu diberi edukasi” - DR ROSMALA NUR, Akademisi Untad, Pemerhati HIV/AIDS -

Rosmala Nur: Suami Harus Lindungi Istri

Palu, Metrosulawesi.com - Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulteng yang mencatat banyak Ibu Rumah Tangga (IRT) terinfeksi HIV/AIDS menjadi keprihatinan Akademisi Untad Dr Rosmala Nur yang juga pemerhati HIV/AIDS di daerah ini. Data Dinkes Sulteng kurun waktu 2002 sampai 2017, IRT terinfeksi HIV/AIDS akibat suami kerap ‘jajan di luar’.

“Suami seharusnya melindungi istri, jangan justru sumber HIV/AIDS,” ujar Rosmala kepada Metrosulawesi, Jumat, 20 Juli 2018.

Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Kesehatan Masyarakat Untad itu mengaku sudah mengetahui sejak beberapa tahun terakhir IRT menjadi sasaran terbanyak virus HIV/AIDS. Bahkan kata dia, saat ini fenomena tersebut bukan hanya dialami IRT perkotaan, tapi sudah menyasar IRT pedesaan.

Itu karena beberapa suami-suami di pedesaan kini telah mengikuti gaya hidup perkotaan dengan melakukan hubungan seks bersama wanita PSK. Hal tersebut menurut Rosmala harus menjadi perhatian pemerintah melalui instansi terkait.

“Hubungan seksual berganti-ganti kini sudah merambah ke pedesaan, ini yang harus menjadi perhatian agar ibu-ibu diberi edukasi,” ucap Rosmala.

Rosmala menyarankan IRT sebagai istri juga harus lebih meningkatkan kualitas komunikasi dengan suami. Komunikasi perlu dijalin apabila melihat ada perubahan perilaku dari seorang suami, terlebih saat suami kerap pulang malam tanpa alasan jelas.

“Istri harus memperbaiki komunikasi dengan suami, misalnya menanyakan saat suami pulang larut malam,” tuturnya.

Rosmala menambahkan, dia selaku akademisi yang bergelut di bidang kesehatan masyarakat dalam beberapa kesempatan sudah melakukan edukasi HIV/AIDS melalui program desa binaan sekaligus guna penelitian.

“Tapi yang paling intens bergerak harus pemerintah melalui instansi atau dinas terkait,” tandas Rosmala.

Seperti diberitakan sebelumnya, berdasarkan data Dinkes Sulteng tahun 2002 sampai 2017, temuan HIV/AIDS di daerah ini mencapai 1.776 kasus. Dari angka tersebut kasus HIV/AIDS terbanyak berada di Kota Palu berjumlah 906 kasus dengan rincian HIV 650 kasus, AIDS 225 kasus.

Adapun untuk kabupaten kasus HIV terbanyak di Banggai 99 kasus, disusul Sigi 82 kasus, Poso 76 kasus, Donggala 50 kasus, Morowali 44 kasus, Parigi Moutong (Parimo) 43 kasus, Tolitoli 35 kasus, Tojo Unauna (Touna) 26 kasus, Buol 16 kasus, Morowali Utara (Morut) 9 kasus, Banggai Kepuluan (Bangkep) 7 kasus, Banggai Laut (Balut) 4 kasus.

Untuk AIDS terbanyak berada di Poso sebanyak 77 kasus, disusul Banggai 76 kasus, Parimo 65 kasus, Sigi 59 kasus, Donggala 41 kasus, Morowali 22 kasus, Touna 15 kasus, Tolitoli 13 kasus, Buol 8 kasus, Morut 7 kasus, Bangkep 4 kasus dan Balut 2 kasus.

Dinkes Sulteng sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk pengobatan dan memerangi penularan HIV/AIDS di daerah ini. Upaya tersebut telah dilakukan dari tahun 2002, sejak kasus HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Kota Palu.

Sejumlah rumah sakit saat ini di Sulteng telah ditunjuk sebagai Pemberi Dukungan Pengobatan (PDP). Rumah sakit yang ditunjuk tersebut diantarannya RS Undata, RS Anutapura dan beberapa rumah sakit di kabupaten seperti RSUD Morowali.

Dinkes Sulteng juga terus gencar melakukan penemuan kasus HIV/AIDS sebab berdasarkan estimasi kasus HIV/AIDS tahun 2012, yang ditetapkan pemerintah pusat di Sulteng sejumlah 3.555 kasus. Upaya yang dilakukan Dinkes Sulteng dengan melatih sejumlah petugas Puskesmas agar bisa melakukan konseling bagi masyarakat yang berpotensi terinfeksi HIV/AIDS.      

 

Editor: Udin Salim

Tags: