Saturday, 18 August, 2018 - 20:09

Sudimari, Stabilitas Rasa Jadi Pembeda

SELALU RAMAI - Suasana Warkop Sudimari 2 yang selalu ramai pengunjung. (Foto: Adhi Abdhian/ Metrosulawesi)

Selain warung kopi (warkop) Harapan, nama Sudimari adalah juga salah satu warkop yang berhasil eksis hingga kini meski dengan konsep sederhana. Citarasa yang stabil dan ikatan persahabatan yang terjalin antara sang pemilik dan pelanggannya, membuat Sudimari punya banyak pelanggan dari beragam kalangan.

SEPERTI Harapan, Sudimari kini dikelola oleh generasi ke-3. Dan sampai saat ini, telah ada 3 cabang warkop Sudimari yang eksis di Palu. Pertama di Jl. Setia Budi (depan SMK 2) yang dikenal dengaan sebutan K1, Jl. Masjid Raya atau K2 dan terbaru di Jl. MT Haryono atau K3. Sebutan ‘K’ juga punya cerita sendiri.    

Awal tahun 1950-an brand Warkop Sudimari sudah eksis.  Adalah pasangan Uma dan Ho Loi yang merupakan pendatang dari negeri Tiongkok yang pertama kali mengenalkan resep kopi racikan negeri tiongkok yang nantinya menjadi resep rahasia Sudimari.

Pasangan yang awalnya kesulitan untuk mengurus kewarganegaraan Indonesia ini, akhirnya diterima menjadi bagian keluarga besar Limbara yang menetap di seputar Jl. Gajah Mada, area dimana pertamakalinya warkop Sudimari dibuka (area ruko Jl. Gajah Mada). Bermodalkan area ruko yang tidak begitu besar dan dilengkapi sekitar enam set meja kursi, bertahun-tahun lamanya Sudimari menjadi salah satu warkop yang populer. Pasangan yang akhirnya punya delapan anak ini, punya penerus yang menyeriusi usaha keluarga ini. Dia adalah Liem Kim Tung yang merupakan anak ke-7 mereka. 

Di tangan Liem Kim Tung yang punya nama pribumi Faisal Limbara inilah, citarasa khas kopi Sudimari resep tercipta. 

“Bapak lah yang membuat rasa kopi Sudimari ini menjadi lebih enak dan lebih khas,” ungkap Irvan Limbara, putra kedua Liem Kim Tung yang kini mengelola Sudimari K3. 

30 tahun lebih lamanya nama Kim Tung demikian dikenal karena racikan kopinya yang khas. Kim Tung paham racikan kopinya punya ‘sesuatu’ yang bisa dijual. Ke-4 anaknya,  Iwan Limbara, Irvan Limbara, Irsan Limbara, dan Iswanto Limbara, juga ia bekali dengan resep kopi rahasianya itu. Rasa kopi khas Sudimari yang banyak digemari saat ini, sudah ‘disesuaikan’ dengan lidah orang Palu. Sebelumnya resep Sudimari adalah resep kopi kental biasa. Tak heran sejak berpulangnya Kim Tung 2015 silam, rasa kopi Sudimari di tangan anak-anaknya, tak berubah. 

Meski popular dengan kopi khasnya, Kim Tung juga menjalani usaha dengan perjalanan yang berliku. Karena lokasi Jl. Gajah Mada harus dijual pemiliknya, ia pun pindah ke Jl. Pattimura pada akhir 90-an. Di lokasi itu ia memulai dari awal lagi. Kim Tung setia menanti pelanggannya datang padanya kembali. Sayangnya, setelah warkop itu ramai, beberapa kerabat banyak yang mempermasalahkan. Tak ingin bertikai, tahun 2002, Kim Tung memilih pindah lokasi. Kali ini di  Jl. Setia Budi (Warkop Sudimari K1 sekarang). Hanya butuh waktu setahun, di tempat baru itu, warkopnya kembali ramai. 

Setelahnya masih di jalan yang sama, Sudimari buka cabang. Lokasinya tepat di lokasi café 168 sekarang. Selama 4 tahun mengontrak di lokasi itu, kopi Kim Tung semakin dikenal. Tak lama dari situ keluarga Limbara lainnya, turut membuka warkop di Jl. Masjid Raya (lokasi Sudimari K2 sekarang).

“K2 dikelola oleh keluarga mama tiri saya. Sampai sekarang tetap ramai,” katanya. 

Setelah K1 dianggap stabil, Irvan dan kedua adiknya berinisiatif untuk membuka cabang Sudimari lagi. Bekas rumah petinggi polisi di Jl. MT Haryono dipilih. Kini, setelah berjalan enam bulan, cabang yang dinamai Sudimari K3 itu juga ramai dengan penikmat kopi. 

Nah, tak banyak yang tahu, bahwa sebutan K1 hingga K3 itu berasal dari singkatan inisial nama Kim Tung. 

“Karena dulu banyak orang kalau mau ngopi hanya bilang, ayo ke tempat Kim tung 1, atau Kim tung 2. Supaya mudah diingat ya kami singkat saja jadi K1, K2 dan K3,” urainya. 

Irvan juga menjelaskan, meski sama-sama menjajakan kopi, Sudimari dan Aweng atau Harapan, punya perbedaan mendasar. Mulai dari stabilnya rasa kopi yang bertahan puluhan tahun lamanya, dan komitmen untuk tidak buka dimalam hari. 

“Tenaganya masih terbatas. Sekalian jadi ciri khas Sudimari yang memnag buka hanya sampai sore hari saja,” tambahnya. 

Meski tak buka sampai malam, Sudimari tetap moncer menjaring keuntungan. Dalam sehari, untuk 1 cabangnya, pendapatan tertinggi Sudimari bisa mencapai Rp 3-5 juta.   

Kedepannya, Irvan punya konsep pengembangan yang lebih meluaskan pasar warkopnya. 

“Banyak produk baru maupun produk lama yang mau saya pasarkan dengan luas. Artinya siapapun nantinya bisa meminum bubuk kopi olahan Sudimari. Sekarang dalam proses membangun manajemennya,” harapnya. 

Irvan tak mau disebut lambat dalam pengembangan usahanya. Ia lebih memilih dibilang berhati-hati. 

“Pengembangan tidak bisa instan, butuh proses. Saya tak mau berjalan setengah-setengah. Harus fokus dan hasilnya juga harus terukur,” tambahnya.  

 

Editor: Udin Salim