Wednesday, 26 September, 2018 - 06:49

Sulteng Kekurangan Dokter Puskesmas dan Guru Produktif

dr Reny A Lamadjido - Drs Irwan Lahace. (Foto: Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Tahun ini pemerintah akan membuka penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Tenaga dokter dan guru menjadi prioritas untuk penerimaan kali ini.

Kepala Dinas Kesehatan Sulteng dr Reny A Lamadjido mengakui Sulawesi Tengah masih kekurangan tenaga dokter untuk ditugaskan di Puskesmas kabupaten/kota di daerah ini.

“Kita masih kekurangan dokter di Puskesmas, khususnya di kabupaten-kabupaten, kalau di Kota Palu sudah hampir semua Puskesmas ada petugas dokter,” ujar Reny kepada Metrosulawesi, Rabu, 30 Juni 2018.

Dia mengatakan, selain kekurangan dokter Puskesmas, Sulteng juga masih kekurangan dokter umum, spesialis dan dokter ahli di berbagai rumah sakit. Hal ini sesuai penyampaian Presiden Joko Widodo yang menyebut Indonesia masih kekurangan tenaga dokter terutama untuk ditugaskan di daerah-daerah pelosok.

Olehnya pemerintah berencana kembali membuka lowongan menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dalam waktu dekat yang memprioritaskan tenaga pendidik/guru dan kesehatan/dokter. Terkait hal tersebut Reny menuturkan akan mengkonfirmasi terlebih dahulu ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sulteng.

“Kita mau rapatkan dulu dengan BKD, karena saya belum tahu apa betul ada formasi untuk dokter,” tutur Reny.

Mantan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Undata Sulteng ini mengatakan kemungkinan rapat bersama BKD akan dilakukan pada pekan depan. Itu sambil menunggu penetapan formasi dari Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB).

“Kita sudah siap kalau formasi telah dikeluarkan Kementerian PAN-RB. Kita tunggu saja,” tandas Reny.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo menyebut Indonesia masih kekurangan tenaga dokter terutama untuk ditugaskan di daerah-daerah pelosok.

"Kita masih kurang dokter terutama untuk di daerah-daerah, sangat kurang sekali," kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam penutupan Pengkajian Ramadhan 1439 Hijriah yang digelar Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka), Ciracas, Selasa 29 Mei.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah Irwan Lahace, mengatakan, pihaknya telah melakukan pemetaan terkait kebutuhan tenaga guru di Sulteng. Oleh karena itu belum lama ini Disdikbud Sulteng telah memberikan data formasi guru kepada Pemerintah Pusat.

Irwan mengaku sangat kaget ketika mengetahui Sulteng masih kekurangan tenaga guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Terkait dengan kebutuhan guru itu, pihaknya sudah mengajukan data formasi ke BKD.

“Pengajuan data formasi guru ke pusat semua itu kami telah serahkan ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD), tinggal BKD yang melanjutkanya, yang pasti pihak BKD akan meminta data guru-guru yang prioritas diterima,” katanya.

Irwan mengatakan, justru yang banyak saat ini adalah tenaga guru Bahasa Inggris.

“Saat ini di Sulteng guru Bahasa Inggris yang paling banyak mengajar di dalam satu sekolah, maka dari itu tidak ada ruang lagi untuk masuk ke sejumlah sekolah. Justru itu bagi guru Bahasa Inggris dari luar daerah kemudian ingin pindah ke Sulteng sudah tidak bisa lagi kesempatan diberikan,” ujarnya.

Irwan mengaku tidak mengetahui persis berapa jumlah guru yang dibutuhkan, yang jelas guru bahasa Indonesia yang saat ini dibutuhkan.

Untuk tingkat SMK katanya, pihaknya masih kekurangan guru produktif. 

“SMK saat ini sangat membutuhkan guru produtif yang mahir sesuai jurusan yang ada di SMK. Persoalannya guru SMK umum saat ini semuanya sudah S1,  tetapi ketika masuk pada guru produktif kita masih nol (kurang),” tuturnya.

“Maka dari itu misalnya di SMKN 7 Palu mempunyai jurusan nautika, gurunya harus mahir di nautika. Jangan guru yang lain diterima. Sebab jika mengambil asal guru produktif kapan permasalahannya di SMK teratasi dengan baik. Karena jika berbicara mengenai mutu, paling berpengaruh adalah  guru,” ujarnya.
 
Kepala Bidang Pembinaan SMK, Hatija Yahya mengatakan di tahun 2019, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulteng, khususnya di Bidang Pembinaan SMK akan mengusulkan program penjaringan tenaga pengajar (guru) produktif dengan jumlah sekitar 386 orang.

“Untuk menyelesaikan persoalan ini, negara harus hadir. Artinya, pemerintah daerah harus bisa mendukung adanya pengangkatan tenaga pengajar produktif yang masih berstatus honorer di SMK. Sebab, jika hal itu tidak dilakukan maka SMK akan terus menciptakan pengangguran, karena tidak berkompetensi,” jelasnya.

Perlu diketahui kata Hatijah, secanggih apapun sarana prasarana yang dimiliki sekolah, tanpa didukung tenaga pengajar yang berkompeten, maka SMK tetap tidak akan bisa melahirkan lulusan yang berkompetensi tinggi.

Hatija berharap, SMK dapat melahirkan tenaga-tenaga terampil yang bisa berwirausaha. Sebab, SMK dirancang menjadi pencipta lapangan pekerjaan, bukan pencari lapangan kerja. Dengan begitu, keunggulan SMK sebagai sekolah kejuruan betul-betul dapat dirasakan oleh masyarakat. (mic/del)
 

Editor: Udin Salim