Saturday, 29 April, 2017 - 22:01

Error message

  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).

Sumbang Inflasi Tertinggi, Pemprov Perlu Ambil Kebijakan Tekan Harga Cabai

Miyono. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Inflasi Kota Palu pada Februari lalu sebesar 0,29 persen, dan cabai menjadi komoditas penyumbang inflasi tertinggi sebesar 0,21 persen. Selama beberapa tahun terakhir biasanya pada Februari Kota Palu mengalami deflasi, namun pada 2017 ini justru mengalami inflasi. BI Perwakilan Sulteng pun langsung bereaksi dengan tingginya inflasi cabai tersebut.

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah langsung melakukan Fokus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah, Senin 6 Maret 2017. FGD tersebut diadakan sebagai reaksi BI atas inflasi yang terjadi pada Februari lalu, khususnya inflasi yang tinggi pada komoditas cabai.

“Kami baru mengadakan FGD bersama sejumlah pejabat Pemprov dan dinas terkait. Ini untuk membahas atau mengevaluasi inflasi serta upaya-upaya untuk mengendalikan inflasi di Sulteng,” sebut Kepala BI Sulteng Miyono di kantornya, usai mengikuti FGD di salah satu restoran di Kota Palu, Senin 6 Maret 2017.

“Sangat penting untuk mengendalikan inflasi, karena inflasi itu menyebabkan seseorang bisa menjadi kurang sejahtera hidupnya karena daya belinya akan menggerogoti akibat inflasi itu,” katanya.

Melihat fenomena inflasi yang tinggi, khususnya komoditas cabai, BI mensinyalir diakibatkan mekanisme pasar yang tidak terkendali dengan baik. Miyono memperkirakan adanya pedagang atau spekulan yang menjual cabai produksi Sulteng ke luar daerah dalam jumlah yang banyak. Akibatnya, kebutuhan cabai di Sulteng justru tidak terpenuhi dan menyebabkan harga tinggi.

“Sebenarnya kita di Sulteng ini surplus itu cabai, tapi karena adanya mekanisme perdagangan antara daerah jadinya pasokannya berkurang di sini. Karena tadi (pada FGD) ada yang bilang lari ke Kalimantan, sampai naik pesawat ke Kalimantan karena harga cabai di sana bisa mencapai Rp 250 ribu,” ujarnya.

Kata dia, persoalan cabai memang masalah nasional, “Sehingga kadang-kadang ketika kita mengambil kebijakan di daerah positif, justru ditanggapi negatif,” jelasnya.

Untuk mengendalikan harga cabai di Kota Palu agar tidak lagi mengalami inflasi yang tinggi, ia berharap agar pihak-pihak terkait bisa mempersuasif pedagang-pedagang besar agar memikirkan jumlah pasokan cabai di dua pasar di Kota Palu, Masomba dan Manonda.

“Mestinya cabai di sini harganya tidak tinggi karena kita menghasilkan cabai,” ujar Miyono.

Selain itu, harga cabai yang tinggi beberapa waktu terakhir menurut dia belum tentu dinikmati oleh petani. Sebab bisa saja harga cabai justru tinggi hanya di kalangan pedagang besar saja, sementara harga di level petani sebagian besar masih pada harga normal yang relatif rendah.

“Saya yakin yang banyak menikmati justru pedagang. Saya fikir, patut diimbau agar pedagang itu dapat ikut menjaga harga supaya cabai di sini tidak begitu tinggi,” katanya.

“Tadi (kemarin) diputuskan (pada FGD) intinya adalah pihak-pihak terkait akan bekerja keras terutama terkait cabai. Bahkan untuk mengatasi persoalan ini sudah ada program nasional tanam cabai,” jelasnya.

Soal penyebab harga cabai yang tinggi Miyono juga mengakui masih lemahnya data-data terkait komoditas yang keluar dari daerah ini. Misalnya soal cabai, pihak terkait belum memiliki data lengkap berapa banyak cabai produksi Sulteng yang justru dijual ke luar daerah. Hal ini karena jembatan timbang untuk mengetahui komoditas-komoditas keluar dari Sulteng belum difungsikan secara maksimal.

Pihak BI sendiri juga telah melakukan program tanam cabai beberapa waktu lalu, misalnya di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Program-program BI yang terkait dengan ketahanan pangan pun sebagian besar dananya akan dialokasikan ke tanaman pangan, khususnya beras dan cabai. Dana tersebut akan dialokasikan ke sejumlah daerah di Sulteng.

“Program  BI kita fokusdkan kepada infrastruktur, supaya bisa lebih berkesinambungan. Diantaranya, traktor dan membuat jaringan irigasi sehingga di musim kemarau pun bisa tanam cabai,” jelas dia.

Sekedar informasi, harga cabai tertinggi di Kota Palu beberapa waktu lalu sempat menyentuh kisar Rp 100 ribu per kilo, harga terakhir di pasaran bahkan masih berada di harga Rp 80 ribu per kilo.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.