Sunday, 22 July, 2018 - 09:26

Supra Intensif Skala Rakyat, Sekali Panen Bisa Untung Rp22 Juta

JADI PERCONTOHAN - Kepala DKP Sulteng Dr Hasanuddin Adjo memberikan penjelasan  teknologi supra intensif skala rakyat kepada rombongan anggota DPR RI Komisi IV di tambak udang vaname di Kecamatan Mamboro, Kota Palu, Selasa, 20 Februari 2018. (Foto: Michael Simanjuntak/ Metrosulawesi)

Ini peluang usaha bagi masyarakat se Sulawesi Tengah. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulteng meluncurkan teknologi supra intensif skala rakyat untuk budidaya udang vaname. Peluncuran supra intensif skala rakyat dilakukan di tambak udang vaname di Kecamatan Mamboro, Kota Palu, Selasa, 20 Februari 2018.

KEPALA DKP Sulteng, Dr Hasanuddin Atjo saat meluncurkan teknologi itu disaksikan  rombongan anggota Komisi IV DPR RI yang tengah melakukan kunjungan kerja di Sulteng. Hasanuddin menjelaskan, untuk pembangunan sarana budidaya supra intensif skala rakyat dengan motode rekayasa kontruksi membutuhkan biaya Rp30 juta. Rincian biaya tersebut untuk keperluan konstruksi besi, terpal, lantai, instalasi air dan aerasi Rp20 juta. Kemudian pompa alkon dan aerator Rp10 juta.

“Teknologi ini murah, semua bisa memanfaatkan, termasuk teman-teman wartawan agar punya aktifitas lain,” ujar Kepala DKP.

Dia mengklaim teknologi supra intensif skala rakyat merupakan yang pertamakali di Indonesia. Diungkapkan bagi masyarakat yang berminat memanfaatkan peluang usaha ini bisa meraup keuntungan mencapai Rp22 juta lebih sekali panen. Nominal keuntungan tersebut dari estimasi panen 600 kg dalam waktu tiga bulan dengan harga rata-rata Rp70.000/kg dikurangi biaya operasional sekitar Rp19 juta. Tentulah perhitungan keuntungan itu diluar pembangunan sarana budidaya yang mencapai Rp30 juta.

DKP saat ini membangun dua tambak teknologi supra intensif skala rakyat berbentuk lingkaran menggunakan terpal dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Tambak itu akan menjadi percontohan bagi masyarakat yang ingin serius mengembangkan usaha udang vaname.

“Segmen teknologi mederen ini memang untuk semua masyarakat karena kalau tambak beton butuh investasi besar. Nanti kita juga akan memberikan pelatihan, makanya bagi yang berminat ikut saja,” tutur Hasanuddin.

Selain itu ia menyampaikan, bahwa apa yang tengah dikembangkan DKP Sulteng dapat memberi sumbangan nyata kepada pembangunan di Indonesia, dalam mengentaskan kemiskinan.

“Teknologi supra intensif skala rakyat yang merupakan pertama di Indonesia saya harap dapat mengentaskan kemiskinan. Kita berharap ini dapat membangun Indonesia dari Sulawesi Tengah,” tandas Hasanuddin.
 
Ketua tim rombongan Komisi IV Roem Kono melihat teknologi yang diluncurkan DKP Sulteng menyampaikan apresiasi. Roem mengatakan bahwa setiap program pemerintah harus dapat menyentuh rakyat. Tentu tujuan utamanya untuk mensejahterakan masyarakat, khususnya petani dan nelayan.

“Menurut saya para petani dan nelayan merupakan pejuang bangsa yang menyediakan sumber makanan serta protein bagi banyak orang,” ujarnya.

“Orang bisa bilang ikan enak tetapi bagaimana kondisi kesejahteraan nelayan. Ini menjadi kewajiban pemerintah, termasuk pembangunan perumahan untuk petani dan nelayan,” tambah Roem.

Dia kemudian berjanji akan memberikan dukungan atas inovasi yang diluncurkan DKP Sulteng. Pihaknya juga akan terus memantau perkembangan teknologi supra intensi skala rakyat agar bisa dijadikan percontohan.

“Saya sangat takjub melihat teknologi yang diluncurkan pak Atjo. Kita akan perjuangan melalui DPR RI, tentu pula dukungan anggaran,” pungkas Roem.       


Editor: Udin Salim