Sunday, 28 May, 2017 - 18:41

Syamsul Anam, Putra Morowali Pencipta Alat Pengolah Sawit Sederhana

Alat pengolah limbah sawit hasil karya Syamsul. (Foto : Metrosulawesi/Joko Santoso)

BERASAL dari daerah yang dikelilingi perkebunan sawit, pria asal Desa Puntari Makmur, Kecamatan Wita Ponda Kabupaten Morowali ini sering menyaksikan sering melihat potensi limbah sawit atau brondolan yang dibuang begitu saja oleh perusahaan, padahal jika diolah masih bernilai ekonomis.

Melihat kondisi ini, pria keluaran Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Poso tahun 1997, yang kemudian berganti nama menjadi Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) dan terakhir menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian ini tergelitik untuk membuat satu teknologi sederhana untuk mengolah limbah tersebut.

Alhasil, berkat ketekunan dan keterampilan teknis dan ilmu dasar yang dia peroleh selama sekolah tersebut berhasil menciptakan alat sederhana tersebut, untuk kapasitas pengolahan 1 ton limbah per jam kerja.

Kreatifitas itu dia tekuni selama tiga tahun terakhir di rumah kosnya, Jalan Zebra Utara Kecamatan Palu Selatan, setelah usaha tromol emas di Poboya miliknya bangkrut, dan uang yang dia kumpulkan ikut ludes.

“Itu sekitar tahun 2013,” kata Syamsul, yang mengaku pernah juga bekerja sebagai teknisi di bengkel sepeda motor milik tetangganya di Kampung H Muhadi.

Syamsul yang kini bekerja pada seseorang di perkebunan kawasan lembah Napu, yang juga berhasil menciptakan sejumlah alat pertanian, seperti alat semprot untuk perkebunan lebih 40 meter dan pencacah rumput tersebut menceritakan, dari sekitar 5 kilogram limbah sawit, setelah melalui proses bisa menghasilkan 1 kilogram CPO, 0,7liter minyak goreng, dan 0,3 margarin.

“Jika dihitung dengan kebutuhan pengolahan seperti bahan kimia sekitar Rp1500 masih bisa dijual dibawah harga pada umumnya,” ungkapnya.

Suatu kali, dia pernah diajak membuat alat olah sawit untuk kapasitas 5 ton per jam bersama dua rekan lainnya, namun setelah dihitung-hitung hasilnya sama dengan ketika dia membuat alat sendiri kapasitas 1 ton per jam, maka dia memilih untuk menolak kerjasama.

Bukan hanya itu, Syamsul juga berhasil membuat alat daur ulang oli bekas menjadi bahan bakar solar, namun akhirnya kerja itu dia kerja sedikit cukup untuk kebutuhan sendiri. Alasanya sederhana, sebagaimana kasus-kasus di belahan nusantara lainnya, dan yang terakhir adalah produsen televisi Kusrin, kediaman Syamsul juga sempat beberapa kali didatangi petugas dengan alasan melakukan aktifitas ilegal.

“Saya juga tidak tahu, kalau dinilai melanggar hukum, yang mananya. Kecuali saya mengolah oli bekas menjadi oli lagi, lha ini dari oli bekas saya ubah jadi solar,” terangnya.

Kata Syamsul, banyak potensi dari limbah seperti plastik hingga ban maupun minyak goreng bekas, yang sudah bisa dia kerja menjadi bahan bakar, namun untuk mengembangkan kreatifitas temuan-temuannya itu, dia terkendala dengan dana untuk membuat peralatan, selain itu juga persoalan legalitas meskipun apa yang selama ini dia kerjakan selama ini mengubah bahan bekas atau limbah menjadi barang lain.

Dan saat ini, Syamsul tengah melakukan ujicoba listrik pohon, atau menjadikan pepohonan sebagai sumber energi pembangkit listrik.

“Saya dan teman sedang merancang alat pelempar listriknya,” ujarnya.

Menurutnya, dari beberapa hasil kreasinya ini, akan sangat membantu masyarakat kalangan bawah, utamanya yang sangat membutuhkan bahan bakar solar, minyak goreng dan lainnya.

Namun, dia tetap akan selektif jika ada pihak-pihak yang menawarkan bantuan atau kerjasama.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.