Sunday, 23 July, 2017 - 18:22

Tadulako Diusulkan Jadi Branding Pariwisata Sulteng

SEREMONI PEMBUKAAN - Hidayat Lamakarate, Tazbir, dan Norma Mardjanu pada pembukaan FGD dan Pelatihan Film Dokumenter di Hotel Sutan Raja, Palu, Rabu 14 September 2016. (Foto : Syamsu Rizal/ Metrosulawesi)

Catatan dari FGD Disparekraf Sulteng

Palu, Metrosulawesi.com - Guna menjaring usulan masyarakat, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Sulawesi Tengah menggelar Focus Group Discussion (FGD) tentang branding pariwisata di Sulawesi Tengah, di Hotel Sutan Raja, Palu, Rabu 14 September 2016. Sampai saat ini, Sulawesi Tengah yang memiliki destinasi pariwisata tersebar di 14 kabupaten/ kota belum memiliki branding.

“Kalau Indonesia, brandingnya Pesona Indonesia dan Wonderful Indonesia. Kalau untuk Sulawesi Tengah belum ada branding sampai sekarang ini. Karena itu, kita mencari masukan-masukan dari berbagai pihak sebagai bahan bagi pemerintah daerah dalam menciptakan branding,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah Norma Mardjanu.

Menurutnya, branding penting sebagai upaya percepatan promosi dan daya saing pariwisata Sulawesi Tengah yang memiliki keragaman budaya dan kekayaan alam.

Sementara itu, sejumlah usulan tentang branding pariwisata Sulawesi Tengah mulai mencuat saat FGD yang dihadiri akademisi, pengusaha sektor pariwisata, dan sejumlah instansi terkait.

Usulan pertama datang dari Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Tengah Hapri Ika Poigi. Dia mengusulkan branding pariwisata Sulawesi Tengah menggunakan kata “Pesona Bumi Tadulako” dengan simbol patung megalitik yang ada di Poso. Menurutnya, Tadulako juga banyak digunakan oleh sejumlah komunitas di Sulawesi Tengah, termasuk perguruan tinggi yakni Universitas Tadulako.

Peserta lainnya setuju dengan usul membranding megalitik sebagai salah satu situs sejarah di Sulawesi Tengah karena telah diakui dunia. Akademisi yang juga Ketua STIA Panca Marga Palu, Dr Timudin Dg Mangera yang menjadi pembicara dalam FGD mengatakan, selain megalitik yang pantas dibranding, juga lokasi paralayang di Matantimali, Kabupaten Sigi  yang dianggap memiliki banyak kelebihan yang tidak ada di negara lain.

Ada juga peserta yang mengusulkan “Pesona Mutiara Khatulistiwa”. Alasannya, saat momentum Gerhana Matahari Total, Bandara Mutiara Palu sudah dikenal oleh ribuan wisatawan yang berkunjung ke Sulawesi Tengah. Karena itu, memperkenalkan branding tersebut akan lebih mudah. Selain itu, aspek kesejarahan atas penamaan Bandara Mutiara. Alasan lainnya, bahwa Sulawesi Tengah dilintasi oleh garis khatulistiwa.

Peserta lainnya mengusulkan “Welcome di Tanah Perdamaian” dengan pertimbangan bahwa Sulawesi Tengah dipromosikan sebagai daerah yang aman dan damai untuk dikunjungi para wisatawan.

Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Tazbir mengatakan, branding pariwisata di tingkat lokal tidak hanya untuk menggaet wisatawan nusantara, tapi juga wisatawan mancanegara.

Karena itu, perlu branding dalam bahasa asing seperti Wonderful Indonesia yang digunakan oleh Kemenpar.

“Branding itu awareness campaign,” kata Tazbir yang menjadi pembicara dalam FGD tersebut.

Menurutnya, branding di tingkat provinsi juga  sebaiknya dikaitkan dengan Pesona Indonesia. Branding pariwisata di tingkat lokal merupakan turunan dari pesona Indonesia. Misalnya, kata dia jika menggunakan “Pesona Bumi Tadulako” disambung dengan kata “Pesona Indonesia”.

“Sehingga tetap NKRI-nya ada di situ. Pesona bukan hanya kementerian Pariwisata. Bahkan bisa dipakai untuk produk makanan,” katanya.

Selain itu, kata dia hal yang penting dalam menciptakan branding pariwisata adalah filosofi yang terkandung di dalamnya. Misalnya pada logo atau gambar Pesona Indonesia terdapat gambar burung memiliki makna filosofis. Begitu juga pada penggunaan warna pada logo.

“Ada filosofi pada branding. Sehingga nantinya laku bukan hanya untuk tingkat nasional, tapi juga internasional,” katanya.

Dia juga setuju jika ada satu ikon yang diperkenalkan hingga ke tingkat internasional misalnya paralayang di Matantimali.

“Kalau Sulteng punya branding sendiri akan mempercepat proses ‘penjualan’ atau marketing pariwisata baik di dalam maupun di luar negeri,” kata Tazbi.

Menurutnya, Sulawesi Tengah sudah berupaya menggelar sejumlah kegiatan untuk menggaet wisatwan. Dan, kata dia saat gerhana matahari total beberapa waktu lalu, Sulteng dikunjungi wisatawan dari berbagai negara setelah diberitakan secara luas bukan hanya nasional tapi juga media internasional.

“Ini momentumnya bagus,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah Norma Mardjanu mengatakan, semua masukan dari peserta FGD ini akan dintindaklnjuti dalam pertemuan berikutnya. FGD ini, kata dia belum final dan masih pertemuan dan diskusi awal untuk dibahas lagi sebelum menetapkan branding untuk pariwisata Sulawesi Tengah.

“Masih ada lanjutannya. Untuk desain logo akan disayembarakan,” kata Norma Mardjanu.

Film Dokumenter

Selain FGD tetang branding pariwisata Sulawesi Tengah, Disparekraf Sulteng juga menggelar pelatihan film dokumenter yang diikuti sekitar 30 peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Kegiatan ini digelar di hotel yang sama, namun ruangan berbeda selama tiga hari sampai 16 September 2016.

Daniel Rudi Haryanto, sutradara film dokumenter menjadi narasumber dalam pelatihan ini bersama sejumlah narasumber lokal yang berpengalaman.

“Untuk memberikan kesempatan kepada para sineas-sineas muda. Memberikan pengetahuan dan kreatifitas pembuatan film dokumenter Sulawesi Tengah. Sulteng kaya dengan SDA yang perlu dipublikasin dan dokumentasikan agar bisa bersaing di tingkat nasional dan bahkan internasional,” kata Norma Mardjanu.

Staf Ahli Gubernur Sulteng Bidang Pemerintahan, Hidayat Lamakarate yang membuka acara mewakili Gubernur Sulteng Longki Djanggola mengatakan, melalui film dokumenter, Sulteng yang memiliki potensi pariwisata yang luar bisa lebih cepat dikenal di dunia internasional.

“Saya pernah menjadi penjabat Bupati Banggai Laut. Saya berani mengatakan, bahwa dari Banggai Laut saja, Sulawesi Tengah bisa mendunia. Kalau promosi hanya leaflet bisa tapi lambat, tapi kalau film dokumeneter bisa ditonton banyak orang bisa lebih cepat dikenal. Saya mewakili Gubernur di sini akan memberikan dukungan, dan beliau juga sejalan untuk proses meningkatan kemampuan sineas muda sehingga pariwisata Sulawesi Tengah lebih cepat dikenal dunia,” tegas Hidayat Lamakarate.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.