Monday, 20 November, 2017 - 08:05

Tahun Ajaran Baru, Pelajar Wajib Pakai Atribut Daerah

Tampak pelajar di Kota Palu memperagakan tarian khas daerah etnis Kaili. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Mulai tahun ajaran baru 2017/2018, Dinas Pendidikan Kota Palu mewajibkan kepada setiap pelajar menggunakan atribut kepala daerahnya masing-masing.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu Ansyar Setiadi, kepada Metrosulawesi, beberapa waktu lalu.

Kata dia, hal ini bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya pada peserta didik, serta memperkenalkan keragaman etnis yang ada di Kota Palu.

“Sekaligus membangun nilai-nilai persaudaraan dan saling menghormati perbedaan etnis. Budaya sangat penting kita perkenalkan kepada anak-anak peserta didik, karena dengan mengenal keragaman budaya, akan muncul perasaan memiliki dan ingin mempelajari,” katanya.

Pelajar saat ini, kata Ansyar, sangat minim pengetahuan tentang kebudayaan, sehingga sangat penting untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya melalui lembaga pendidikan.

“Jangankan keragaman budaya, budaya mereka sendiri sudah sangat jarang mereka ketahui. Untuk itu, salah satu upaya Pemerintah Kota Palu untuk memperkenalkan kembali keragaman budaya itu adalah melalui penggunaan atribut kepala etnisnya masing-masing,” katanya.

“Misalnya untuk etnis kaili dapat menggunakan siga, etnis Jawa menggunakan blangkon, etnis Bugis menggunakan songgo bugis dan etnis lainnya dapat menyesuaikan dengan etnisnya masing-masing,” ujarnya.

Pelaksanaan penggunaan ciri khas daerah bagi pelajar di Kota Palu memang telah diinstruksikan sebelumnya oleh Wali Kota Palu, Hidayat, M.Si.

“Jadi ini bukan memakai pakaian adat lengkap, tetapi hanya pada bagian kepala saja. Misalnya, bagi suku kaili memakai siga dan bagi suku jawa memakai blangkon. Disinilah upaya Kota Palu untuk mengenalkan budaya nusantara kepada para siswa SD-SMP,” kata Hidayat di Palu beberapa waktu lalu.

Selain itu, kata Hidayat, pihaknya juga telah mengeluarkan Instruksi wali Kota terkait kewajiban menyanyikan lagu nasional/kebangsaan dan daerah usai jam belajar siswa SD-SMP.

“Jadi sebelum siswa SD dan SMP pulang ke rumahnya, wajib menyanyikan dua lagu kebangsaan atau satu lagu kebangsaan dan satu lagi lagu daerah. Dihapus saja apel pulang sekolah, digantikan dengan menyanyikan lagu kebangsaan tersebut,” katanya.

“Karena dahulu kita semua sekolah, budaya menyanyikan lagu kebangsaan usai sekolah diwajibkan. Coba hal ini kita galakkan lagi kepada para siswa SD-SMP,” katanya.

Hidayat mengatakan bahwa intinya, dirinya berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkan visi misinya dalam membangun Kota Palu.

“Karena kedepannya, saya akan mempertanggungjawabkan visi misi yang saya usung kepada masyarakat. Apa saja yang saya lakukan untuk mewujudkan visi dan misi itu, maka jawabannya adalah program-program yang akan kami laksanakan,” jelasnya.


Editor : M Yusuf BJ

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.