Tuesday, 22 May, 2018 - 04:47

Telur Naik Rp6.000, Ayam Potong Rp10.000

PANTAU PASAR - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Tengah H Arief Latjuba (kanan) bersama Asisten II Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Sulteng B Elim Somba (kedua dari kiri) saat melakukan sidak di Pasar Manonda Palu, Selasa 15 Mei 2018. (Foto: Ist)

Palu,  Metrosulawesi.com - Menjelang Ramadan,  harga-harga kebutuhan pokok mulai bergerak naik. Bahkan telur dan daging ayam mengalami gejolak harga.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Tengah H Arief Latjuba usai melakukan peninjauan ke dua pasar tradisional di Palu, Selasa 15 Mei 2018, mengatakan,  harga telur mengalami kenaikan sampai enam ribu rupiah per rak.  Sedangkan harga ayam potong naik hingga sepuluh ribu rupiah.
 
Sebelumnya,  harga telur dari Rp39 ribu menjadi Rp 45 ribu per rak, daging ayam kini dijual Rp 50 ribu sampai Rp 55 ribu per ekor dan ukuran besar Rp60 ribu per ekor.

Gejolak harga ini,  kata Arief Latjuba hanya situasional menjelang Ramadan. Tapi nanti dipastikan akan turun lagi. Gejolak harga ini terjadi secara nasional, bukan hanya di Kota Palu.

Untuk daging juga stabil dengan harga Rp 110 per kilogram di pasar tradisional. Sedangkan di ritel modern harga daging beku Rp 80 ribu per kilogram.  Dengan demikian ada alternatif bagi masyarakat untuk membeli.

Untuk harga beras tetap stabil, kelas medium Rp 9.100 per kilogram jauh di bawah harga eceran tertinggi (HET) Rp 9.400 per kilogram. Untuk kelas premium dijual kisaran Rp10 ribu sampai Rp11 ribu per kilogram,  jauh di bawah HET yakni Rp12. 800 per kilogram.

Asisten II Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Sulteng B Elim Somba juga mengakui adanya gejolak harga untuk dua kebutuhan pokok,  yakni telur dan daging ayam akibat psikologi pasar.

Elim Somba berharap gejolak harga segera kembali stabil.  Bila tidak akan dilakukan skema berupa operasi pasar dan pasar murah.

"Apalagi ada Hari Raya Waisak yang bertepatan dengan bulan Ramadan. Sehingga momen itu bisa dilakukan pasar murah, " kata Elim Somba.

Dia juga mengingatkan agar berhati-hati menyikapi gejolak harga telur. Kalau harga telur di sini terlalu rendah justru berpotensi 'disedot' daerah lain yang harganya tinggi seperti Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Jadi, selisih harga antar daerah harus diperhatikan. Telur asal Sidrap dulu masih selisih Rp3.000 per rak tapi sekarang  selisihnya hanya Rp1.000 per rak

Kepala Divisi Regional Bulog Sulteng Khozin mengatakan daging impor beku akan masuk bila sarana cold storage selesai dibangun. Cold storage tersebut berkapasitas 6,8 ton daging beku impor dan ditempatkan di halaman belakang kantor Bulog Sulteng.

Untuk stok beras, kata Khozin ada sebanyak 12.500 ton dan cukup untuk lima bulan ke depan, apabila stok untuk bansos 2.000 ton dan persiapan operasi pasar 1.000 ton. Pasokan terus masuk karena saat wilayah Pantai Barat sedang masa panen.

Hendrik, distributor ayam potong dan telur di Jalan Otista mengatakan gejolak harga dua komoditas itu akibat demand yang tinggi daripada supply.

"Tapi biasanya harga tinggi tidak bertahan lama. Setelah memasuki Ramadan harga akan turun dan mulai naik lagi saat mendekati lebaran," kata Hendrik.

Peninjauan dilakukan pada dua pasar tradisional yakni Pasar Inpres Manonda dan Pasar Masomba. Kemudian tim melanjutkan peninjauan ke distributor telur dan daging ayam dan peternak.


Editor: Udin Salim