Wednesday, 29 March, 2017 - 05:46

Terbukti Korupsi, Kadis Sosial Sulteng Divonis Setahun

ILUSTRASI - Terdakwa Andi Sose Parampasi terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dana proyek pembangunan Rumah Jabatan (Rujab) Ketua DPRD Kabupaten Donggala tahun 2008. (Grafis : Metrosulawesi)

Dua Terdakwa Lainnya Juga Kena Satu Tahun

Palu, Metrosulawesi.com - Mahkamah Agung (MA) RI menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Andi Sose Parampasi dengan pidana penjara selama satu tahun, dan denda senilai Rp 50 juta subsidair 3 bulan kurungan, serta membayar uang penganti senilai Rp 23 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Humas Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Palu, Lilik mengatakan, pihaknya sudah menerima petikan putusan MA terhadap terdakwa Andi Sose Parampasi, terdakwa Mohammad Said Entebo dan terdakwa Yanti Ardhyanty Bawias.

Lilik mengatakan, dalam amar petikan putusan MA Nomor 2010 K/Pid.Sus/2016 menyatakan bahwa terdakwa Andi Sose Parampasi yang kini menjabat Kepala Dinas (Kadis) Sosial Provinsi Sulteng itu terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dana proyek pembangunan Rumah Jabatan (Rujab) Ketua DPRD Kabupaten Donggala tahun 2008, dan membatalkan putusan Nomor 2/Pid.Sus-TPK/2016/PN Palu.

"Olehnya terdakwa Andi Sose divonis dengan pidana penjara selama satu tahun, dan denda senilai Rp 50 juta subsidair 3 bulan kurungan, serta membayar uang penganti senilai Rp 23 juta subsidair 6 bulan kurungan," ujarnya.

Terdakwa Andi Sose Parampasi terjerat kasus ini saat menjabat Kadis Permukiman dan Penataan Wilayah Kabupaten Donggala yang juga sebagai Pengguna Anggaran (PA).

Selain terdakwa Andi Sose Parampasi, dalam petikan putusan MA Nomor 2009 K/Pid.Sus/2016 menyatakan bahwa terdakwa Mohammad Said Entebo terbukti melakukan korupsi secara bersama-sama dana proyek pembangunan Rumah Jabatan (Rujab) Ketua DPRD Kabupaten Donggala tahun 2008. Sehingga, terdakwa Mohammad Said Entebo divonis dengan pidana penjara selama satu tahun, dan denda senilai Rp 50 juta subsidair 3 bulan kurungan, serta membayar uang penganti senilai Rp 8 juta subsidair 3 bulan kurungan.

Kemudian putusan MA Nomor 2011 K/Pid.Sus/2016 menyatakan bahwa terdakwa Yanti Ardhyanty Bawias terbukti melakukan korupsi secara bersama-sama dana proyek pembangunan Rumah Jabatan (Rujab) Ketua DPRD Kabupaten Donggala tahun 2008. Sehingga, terdakwa Yanti Ardhyanty Bawias divonis dengan pidana penjara selama satu tahun dan denda senilai Rp 50 juta subsidair 3 bulan kurungan.

Terdakwa Yanti Ardhyanty Bawias terjerat perkara ini dalam kapasitasnya saat itu selaku Pejabat Pelaksana Tehnis Kegiatan (PPTK) Sedangkan terdakwa Mohammad Said Entebo selaku rekanan (Direktur CV Lutom Jaya). (gus)

Ingin Ajukan PK

Sementara itu, Andi Sose Parampasi saat dimintai keterangannya mengatakan dirinya belum menerima petikan putusan MA tersebut.
 
“Saya belum terima salinan putusan MA itu,” katanya.

Kata dia, nantinya setelah menerima petikan putusan MA, Mantan Staf Ahli Gubernur Sulteng Bidang Kesejahteraan dan SDM  itu berencana akan mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK).

“Saya tunggu salinan itu dulu, baru nanti ajukan PK,” ujar Andi Sose.
 
Salah satu amunisi pamungkasnya yang akan digunakan di PK yaitu karena dirinya merasa korban atas keterangan palsu oleh Bendahara pengeluaran Asgar Ardiansyah semasa menjabat Kepala Dinas Permukiman dan Penataan Wilayah Kabupaten Donggala.

“Saya dizalimi oleh bendahara saya melalui keterangan palsu saat menjadi saksi pada persidangan tingkat pertama. Saya punya bukti atas keterangan palsu yang diberikannya di persidangan itu,” ucapnya.

“Saya juga sudah melaporkan dia (Asgar Ardiansyah) pada 26 Februari 2016 ke Polda atas keterangan palsu itu, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya,” tambah Andi Sose.

Andi Sose menegaskan, dirinya tidak sepeserpun menerima uang atas dugaan korupsi seperti yang disangkakan kepadanya.

“Kontraktor rekananan juga sudah mengatakan hal demikian, mereka tidak ada memberikan uang. Justru bendahara saya itu yang menerima uang, tapi dipersidangan malah saya yang dia dibilang menerima. Seharusnya dia yang harus tersangka, bukan saya,” tandasnya. (mic)


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.