Thursday, 16 August, 2018 - 04:58

Terdakwa dan Korban Dugaan Pencabulan Dibaca Surat Yasin di PN Palu

PROSES SUMPAH- Terdakwa dan korban berhadapan dengan Imam saat dibacakan surat Yasin di Pengadilan Negeri Palu, Rabu, 31 Januari.

 

Palu, Metrosulawesi- Terdakwa Abdul Rahman Rifai dan Rr (korban) membawa Imamnya masing-masing untuk mendampingi proses sumpah yang hendak mereka ucapkan terkait perkara yang mendakwakan kepada terdakwa Abdul Rahman Rifai di Pengadilan Negeri (PN) Palu, Rabu, 31 Januari.

Abdurrachman M Kasim SH MH selaku kuasa hukum terdakwa Abdul Rahman Rifai kepada Metrosulawesi mengatakan, kliennya berani mengambil sikap untuk melakukan sumpah karena selama ini dia merasa dizolimi oleh saksi korban. “Klien kami merasa apa yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan keterangan saksi korban itu tidak benar,” katanya.

Sumpah yang dilakukan adalah sesuai versi masing-masing. Terdakwa mengucapkan sumpahnya dengan cara Alquran diletakkan di atas kepala dan mengucapkan sumpah yang dipandu oleh Imam. Sedangkan korban dengan cara membacakan surat Yasin oleh Imam yang dihadirkan oleh korban, kemudian korban dan terdakwa minum air yang dibawakan oleh Imam.

Setelah itu kata mantan Ketua DPC Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Palu itu, bahwa melakukan rekonstruksi atas peristiwa tersebut.

Sumpah yang mereka ucapkan itu diharapkan agar yang memberikan hukuman itu adalah Allah. Karena klien kami merasa tidak pernah melakukan hal tersebut. Sedangkan korban tetap pada pendiriannya sebagaiman yang didakwakan JPU.

Olehnya, kami minta hadirkan ahli dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulteng memeriksa klien kami terkait penyakit yang dialaminya, seperti diabetes dan jantung.

Sementara itu, Imam Masjid Al Ansar Dupa Indah Kelurahan Layanan, Zulkifli Mansyur yang dihadirkan oleh terdakwa mengatakan isi sumpah yang diucapkan itu kalau dia benar melakukan, nanti akan mengakibatkan dia mati mendadak dan tidak dapat reseki dalam kehidupan. 

"Peristiwa itu akan terjadi dalam waktu 3 bulan dari sekarang. Kalau benar dia lakukan itu, ucapannya itu pasti akan terjadi. Sudah banyak korban dari sumpah yang mereka ucapkan," ujarnya.

Pantauan Metrosulawesi, bahwa Majelis Hakim Ketua, I Made Sukanada yang didampingi Agus dan Ernawati masing-masing Hakim anggota berulang kali mengingatkan bahwa sumpah ini tidak main-main karena ini sumpah kepada Tuhan. Segala resiko yang terjadi setelah mengucapkan sumpah ini saudara yang menanggungnya. 

Majelis Hakim sempat memberikan kesempatan kepada kedua pihak untuk berpikir-pikir kembali. Namun pada pukul 14.02, Majelis Hakim membuka secara resmi sidang tersebut. Kemudian menanyakan kembali kepada kedua pihak perihal sumpah yang hendak diucapkan. Kedua pihak sudah menyiapkan Imamnya masing-masing untuk mengawal proses sumpah tersebut. Majelis Hakim pun mempersilakan kedua pihak untuk mengucapkan sumpahnya dengan cara masing-masing. Setelah itu, Majelis Hakim bersama JPU dan terdakwa yang didampingi oleh kuasa hukumnya serta korban keluar ruangan untuk melakukan rekonstruksi kembali atas peristiwa yang didakwakan JPU kepada terdakwa Abdul Rahman Rifai. Rekonstruksi itu dilakukan dalam mobil di belakang kantor Pengadilan Negeri Palu. Kemudian masuk lagi dalam ruangan sidang untuk melakukan pemeriksaan terdakwa. Sidang berakhir pada pukul 15.15 Wita.

Diketahui, bahwa JPU) mendakwa terdakwa Abdul Rahman Rifai telah melakukan tindak pidana pencabulan anak dibawa umur berinisial Rr. Sehingga, perbuatan terdakwa Abdul Rahman Rifai diancam dengan pidana penjara sebagaimana yang diatur dalam pasal 81 dan pasal 82 Undang-Undang (UU) Republik Indonesia nomor 35 Tahun 2014 atas perubahan dari UU Republik Indonesia nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. (gus)