Monday, 24 April, 2017 - 21:38

Error message

  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).

Terdakwa Kasus Gernas Kakao Tolitoli Sebut Dirut Supin Raya Harus Bertanggung Jawab

SAKSI GERNAS - Direktur Utama PT Supin Raya, Donatus, saat dimintai keterangan sebagai saksi dalam sidang lanjutan dugaan korupsi proyek Gernas Kakao Tolitoli di Pengadilan Negeri Palu, Senin 13 Maret 2017. (Foto : Dok Metrosulawesi/ Agustinus Salut)

"Saya hanya tanda tangan dokumen penawaran dan kontrak saja dalam proyek Gernas Kakao Tolitoli. Apalagi masalah keuangan, sepeserpun saya tidak tau. Pak Donatus yang mengetahui dan bahkan yang paling bertanggungjawab dalam perkara ini karena beliau itu yang urus semuanya," - Syamsul Alam, Terdakwa -

Palu, Metrosulawesi.com - Sidang perkara dugaan korupsi dana proyek Gerakan Nasional (Gernas) Kabupaten Tolitoli tahun 2013 terus bergulir di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Palu, dan Minggu ini agendanya adalah pembacaan tuntutan terhadap empat terdakwa.

Ironisnya, Direktur Utama PT Supin Raya, Donatus yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Tolitoli pada tahun 2013 silam hingga kini statusnya tidak jelas.

Bahkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) sudah dikembalikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) kepada penyidik Tipikor Polres Tolitoli karena tidak ada laporan perkembangan penyidikan terhadap tersangka Donatus kepada JPU. Fakta persidangan, nama Donatus selalu disebut-sebut.

"Saya hanya tanda tangan dokumen penawaran dan kontrak saja dalam proyek Gernas Kakao Tolitoli. Apalagi masalah keuangan, sepeserpun saya tidak tau. Pak Donatus yang mengetahui dan bahkan yang paling bertanggungjawab dalam perkara ini karena beliau itu yang urus semuanya," kata Syamsul Alam kepada Metrosulawesi, Kamis, 14 April 2017 di Pengadilan Tipikor Palu.

Syamsul Alam yang menjadi terdakwa dalam perkara dugaan korupsi proyek Gernas Kakao Tolitoli tahun 2013 itu menuturkan, sejak tahun 1992-2015 dirinya sebagai karyawan di PT Supin Raya Makassar dengan gaji bulanan terakhir yang diterimanya adalah senilai Rp 3.500.000.

Betul bahwa pada tahun 2011, dia diangkat sebagai Direktur PT Karya Lestari Raya (anak Perusahaan PT Supin Raya), tapi jabatan itu hanya formalitas belaka. Buktinya saya tetap bekerja seperti biasanya di kantor PT Supin Raya, yaitu sebagai karyawan biasa.

Terkait dengan PT Karya Lestari Raya, betul dalam dokumen Perusahaan, Syamsul Alam selaku direktur, tapi itu hanya formalitas untuk melengkapi dokumen perusahaan. Sehingga, saat ikut tender, Syamsul Alam yang tanda tangan semua dokumen. Tetapi setelah menjadi pemenang proyek, Donatus yang mengurus semuanya. Ada orang yang ditugaskan oleh Donatus untuk mengelola proyek tersebut, yakni Wempi Rusli dan Albertus Abe, dan dikoordinir oleh Manajer PT Karya Lestari Raya, Nawir.

"Persis selama proyek itu berjalan, saya tidak dilibatkan sama sekali. Saya tidak tau soal pekerjaan itu karena saya bekerja seperti biasanya di kantor PT Supin Raya. Jadi, yang tau itu adalah Pak Donatus dan Pak Nawir," tegasnya.

Syamsul Alam yang mempunyai empat anak itu menegaskan, seharusnya mereka dua, Donatus dan Nawir yang bertanggungjawab dalam perkara ini. Apalagi mereka dua sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara ini bersamaan dengan kami pada tahun 2013. Ironisnya sampai saat ini mereka belun diseret ke penjara.

"Saya merasa dizolimi, saya tidak tau soal, tiba-tiba saya yang diseret ke penjara. Secara akal sehat, pasti gaji saya naik ketika saya diangkat jadi direktur, tapi faktanya gaji saya tetap seperti gaji sebelum diangkat sebagai direktur. Kasihan isteri dan anak-anak saya, tidak ada yang menafkahi mereka," kata Syamsul Alam, menangis.

Dakwaan JPU menyebutkan, bahwa pada tahun 2013, Pemerintah Daerah Kabupaten Tolitoli dalam hal ini Dinas Perkebunan mendapat program peningkatan produksi dan mutu kakao nasional yang diprogramkan oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian.

Dinas Perkebunan Kabupaten Tolitoli mendapat program tersebut berupa bantuan pengadaan bibit atau entres sambung samping kakao sebanyak 4.500.000 sambungan. Program tersebut dikemas dalam bentuk program Gernas Kakao dengan dana yang bersumber dari APBN tahun 2013 dengan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) senilai Rp 11.250.000.000. Nah, dari total anggaran tersebut, senilai Rp 6.675.751.550 yang diduga di korupsi oleh para terdakwa.

Adalah terdakwa Mansyur Lanta selaku mantan Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Tolitoli yang juga menjabat sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam proyek tersebut, Eko Juliantoro selaku Pejabat Pembuat komitmen (PPK), dan Conni Katiandagho selaku Pejabat Penandatanganan Surat Perintah Membayar (PP SPM), serta Syamsul Alam selaku rekanan.

Sehingga, empat terdakwa tersebut didakwa dengan dakwaan Primair Pasal 2 ayat 1 Jo Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP, dan dakwaan subsidair Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.