Saturday, 25 November, 2017 - 11:42

Terpidana “Gedung Wanita” Tuntut Pemilik PT Trijaya Putra Pratama, Akan Gugat Beni dan Soni Tandra

Palu, Metrosulawesi - Siti Salma, salah satu terpidana korupsi proyek Gedung Wanita, berencana akan menggugat pemilik PT Trijaya Putra Pratama, Beny Tandra dan Soni Tandra. Dia mengaku hanya sebagai korban dari manajemen perusahaan itu. “Saya diangkat sebagai direktris di perusahaan itu hanya sekadar nama. Semua kebijakan perusahaan ditentukan oleh mereka berdua. Termasuk ketika perusahaan itu dipinjamkan untuk mengerjakan proyek Gedung Wanita itu,” katanya kepada Metrosulawesi saat ditemui di Lapas Palu, Rabu 11 Oktober.

Siti Salma, adalah salah satu terpidana korupsi Gedung Wanita yang sudah menjalani masa hukumannya sejak akhir September lalu. Dia terseret dalam kasus itu, karena kapasitasnya sebagai direktris PT Trijaya Putra Pratama, salah satu perusahaan yang mengerjakan proyek itu.

Dia menjelaskan, dalam proyek itu, PT Trijaya Putra Pratama dipinjampakai oleh Ir Jauhary O Sakkung.

“Saya sama sekali tidak tahu menahu perusahaan itu dipakai oleh pak Dede Sakkung (Ir Jauhary Sakkung,red). Pinjam pakai perusahaan itu adalah hasil pembicaraan antara pemilik perusahaaan. Saya tahunya setelah ada masalah,” kata Siti.

Siti mengatakan, PT Trijaya Putra Pratama adalah milik Sony Tandra. Sejak Sony Tandra menjadi anggota DPRD Sulteng, perusahaan itu kini pengelolaannya diserahkan kepada adiknya Benny Tandra.

“Tetapi saya tetap meminta pertanggungjawaban pak Sony Tandra, karena meskipun pak Benny yang kelola, tetap ada arahan dari pak Sony,” kata Siti.

Siti pun kemudian menceritakan singkat latar belakang sehingga dia diangkat menjadi direktris. Sebelum menjabat direktris, dirinya menjabat sebagai staf bagian keuangan di salah satu perusahaan yang juga milik Sony Tandra. Pada saat Trijaya Putra Pratama dibuat, dia kemudian langsung diangkat menjadi direktris. Pengangkatan direktris itu dituangkan dalam akta di hadapan notaris.

“Namun setelah terjadi permasalahan ini. Dan saya dijebloskan di tahanan pada waktu itu. Saya pun langsung minta dikeluarkan dari perusahaan itu. Saya menandatangani semua berkas pengunduran diri saat saya berada di dalam Rutan,” jelas Siti.

Ditanya apakah selama menjabat direktris, hak-haknya dibayarkan? Siti menjelaskan, selama menjabat direktris hanya mendapat upah sebagai karyawan biasa.

“Gaji yang saya terima, adalah gaji sebagai bagian keuangan. Tidak ada gaji sebagai direktris,” kata Siti.

Siti menyesalkan, sikap Sony Tandra dan adiknya Beny Tandra yang terkesan lepas tangan.

“Mereka sudah mengorbankan saya, tetapi mereka sama sekali tidak punya rasa tanggung jawab kepada diri saya. Nanti, saya akan buat perhitungan.” kata Siti.

Dikonfirmasi terkait hal itu, Sony Tandra enggan menjelaskan secara panjang lebar.

“Soal Trijaya Putra Pratama itu bukan urusan saya lagi. Itu sudah urusan adik saya Beny Tandra. Jadi temui saja adik saya,” katanya singkat.

Beny Tandra yang dikonfirmasi sebelumnya, membantah tidak memiliki tanggung jawab terhadap permasalahan yang dialami mantan direktrisnya itu. Dia membantah disebut meminjamkan perusahaan itu kepada Dede Sakkung.

“Itukan maunya ibu Ece (Siti Salma,red). Dia bersama-sama Dede Sakkung mengerjakan proyek itu,” kata Benny. 

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.