Saturday, 23 June, 2018 - 01:14

Tersangka Otak Pembunuhan Yeyen Tergiur Perhiasan Milik Korban

TERSANGKA PEMBUNUHAN - Tiga tersangka pembunuh Yeyen, dari kiri: Dhita Andhira alias Dhita, Indra dan Umar alias Kuma saat dirilis di Polres Palu, Rabu 7 Maret 2018. Foto lain: Kapolres Palu AKBP Mujianto Sik, bertanya kepada para pelaku. (Foto: Eddy/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com – Hanya dalam waktu lima hari, Kepolisian Resort (Polres) Palu, berhasil mengungkap pembunuhan Nur Faizah alias Yeyen (45),  jenazah ditemukan seorang pengembala di semak-semak, di jalan Kebun Sari, Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Palu Selatan, pada Sabtu 3 Maret 2018 lalu.

Tiga pelaku yang menghabisi nyawa Yeyen itu, yakni: Indra (28) warga Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), serta Umar alias Kuma (26) warga Kota Palu, dan Dhita Andhira alias Dhita (22), satu-satunya wanita asal Parimo.

Informasi yang diperoleh Metrosulawesi di Polres Palu, Dhita-lah mengotaki kasus pembunuhan itu. Terungkap bahwa pembunuhan tersebut sudah direncanakan oleh Dhita yang diketahui merupakan rekan kerja korban. Dhita bersama dengan Indra, mendatangi Kuma untuk merencanakan pembunuhan itu. Setelah merasa perencanaan sudah matang, maka ketiga pelaku sepakat melakukan perampokan dengan modus Indra berpura-pura menjadi pelanggan dari usaha yang dijalankan korban.

Pada malam kejadian itu, dengan menggunakan mobil sewaan, Avanza hitam DN 743 AQ, ketiga pelaku mendatangi korban di Jalan Thamrin Palu. Selanjutnya korban dibawa ke tempat kosnya.

Sesampainya di kost korban, pelaku mencoba untuk memetakan barang – barang milik korban yang akan dirampok, tanpa merasa curiga korban diajak oleh Indra kembali ke mobil. Korban duduk di jok depan sebelah kiri. Saat itulah, Kuma lansung mencekik leher korban dengan menggunakan tali yang sudah disiapkan.

Korban Yeyen saat itu sempat meronta. Tapi langsung dipukul oleh Indra saat itu duduk di posisi samping kanan korban. Indra memukul wajah dan bagian dada korban dengan tangan kosong, hingga korban tak bergerak lagi.

Setelah itu, pelaku mengangkat tubuh korban dipindahkan ke ke kursi tengah mobil itu. Para pelaku kemudian mengikat kaki dan tangan korban. Selanjutnya, jasad korban dibawa dan dibuang di di semak-semak, di jalan Kebun Sari, Kelurahan Kawatuna.

Kapolres Palu AKBP Mujianto Sik, kepada wartawan di Mapolres Palu, Rabu 7 maret 2018 mengatakan, pembunuhan tersebut sudah direncanakan oleh para pelaku, dan otak pembunuhan adalah teman korban bernama Dhita (22) yang juga satu profesi dengan korban.

“Korban ini dieksekusi oleh para pelaku di dalam mobil Avanza, saat dipukuli hingga tidak sadarkan diri dan meninggal dunia, barulah mayatnya dibuang di wilayah Kawatuna dengan kaki dan tangan terikat,” ungkapnya.

Kapolres menjelaskan menurut pengakuan para tersangka, setelah membunuh dan membuang jasad korban di wilayah Kawatuna, barulah para pelaku melakukan pembongkaran di Kos Korban yang terletak di jalan Sisisngamangaraja, lorong SMK PGRI. Mereka mengambil emas milik korban yang belum diketahui jumlahnya. Namun, emas tersebut hampir semuanya Imitasi hanya sebuah cicin milik korban yang emas asli.

“Motifnya para pelaku adalah perampokan, karena salah satu pelaku atau otak pembunuhan tersebut sering bertamu dan tidur di kos korban, dan pelaku ini melihat di satu tempat atau brankas milik korban banyak tersimpan barang berharga. Jadi keinginannya bagaimna dapat memiliki perhiasan emas tersebut,” jelasnya.

Para pelaku diduga menggunakan Narkoba saat akan melakukan pembunuhan kepada korban, karena ditemukan barang bukti alat hisap sabu dari dalam mobil para pelaku, dan juga salah satu pelaku merupakan pelaku pencuri motor, dan saat ini masih didalami.

Penangkapan yang dilakukan, dengan cara melacak kedua handpone milik korban dan diketahui berada di wialayah Desa Tada Kecamatan Tinombo selatan Kabupaten Parimo,dan handpone milik korban diketahui belakangan digunakan oleh pelaku bernama Indra. Setelah mengetahui keberadaan Indra kemudian anggota bergerak menuju Desa Tada dan melakukan penangkapan kepada pelaku Indra dan Dhita di rumahnya serta barang bukti berupa Hp samsung lipat warna hitam milik korban.

“Barang bukti yang diamankan, satu unit handphone merek samsung lipat warna hitam, Satu unit Handphone merk Oppo warna putih, satu unit mobil merk toyota avanza warna hitam. Dan mencari barang bukti laiinnya dalam penyidikan kami,” kata Kapolres Palu.

Mujianto mengatakan, para tersangka dikenakan pasal 340 dengan ancaman hukuman seumur hidup dan paling ringan 20 tahun penjara.

“Mereka melakukan pembunuhan berencana,” tegasnya.

Sementara itu salah satu pelaku mengakui kepada Kapolres bahwa Dhita yang menyuruhnya membunuh korban. Saat korban sudah berada di kursi bagian tengah mobil.

“Masih hidup itu, kasih mati saja,” ungkap Kumal saat dirinya ditanya Kapolres.

Usai press rilis yang juga dihadiri kerabat korban, salah satu pelaku dibawa anggota Buser ke Mobil, sontak kerabat korban yang hadir mencoba melakukan pemukulan terhadap pelaku. Namun pelaku langsung diamankan di dalam Mobil yang membuat kerabat korban berteriak histeris menahan rasa marah kepada pelaku, namun polisi berhasil meredam amarah para korban. 


Editor: Udin Salim