Thursday, 16 August, 2018 - 18:34

Tiga Kejahatan Harus Jadi Musuh Bersama

AKBP Teddy Salawati, SH. (Foto: Ist)

Akhir-akhir ini gelombang aksi lawan terorisme terjadi hampir seantero tanah air, termasuk di Sulawesi Tengah. Kenapa? Karena aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh kelompok teroris di sejumlah tempat itu banyak orang tidak berdosa yang jadi korban, dan aksi terorisme itu dipandang sebagai kejahatan kemanusian.

AKSI lawan terorisme itu sudah betul. Namun kita lupa atau tidak menyadari bahwa korupsi dan narkoba juga adalah bagian dari kejahatan kemanusiaan yang harus jadi musuh bersama dan harus dilawan karena korbannya orang tak berdosa dalam hal ini rakyat,” kata AKBP Teddy Salawati SH dalam diskusi ringan bersama Metrosulawesi, Sabtu, 19 Mei.

Teddy Salawati yang menjabat Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) III Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda Sulteng mengatakan, ada tiga kejahatan kemanusian yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, yakni: korupsi, narkoba dan terorisme.

Pertama adalah korupsi, kenapa? sebagian besar pelaku Tipikor adalah penyelenggara negara yang memiliki kewenangan dan kekuasaan. Dalam konteks ini, negara dan rakyat yang tak terhitung jumlahnya jadi korban kejahatan tersebut. Mereka manfaatkan negara dan rakyat.

Anggaran negara yang dikumpulkan dari rakyat digerogoti oleh mereka yang dipercaya mengelola negara ini. Banyak pejabat negara yang terbukti melakukan korupsi, mulai dari Ketua DPR RI/DPRD, Anggota DPR RI/DPRD, Menteri, Gubernur, Bupati/Wali Kota, Camat, sampai Kepala Desa. Bahkan termasuk penegak hukum itu sendiri terlibat dalam korupsi.

“Siapa korbannya? Rakyat Indonesia (orang) yang tidak berdosa. Ketika mereka megerogoti uang negara maka terjadi adanya kerugian negara dan rakyat semakin menderita,” katanya.

Berdasarkan rilis Indonesia Corruption Watch (ICW), Selasa 20 Februari 2018 yang dikutip Kompas.com menyebutkan, bahwa pada tahun 2017 terdapat 576 kasus korupsi yang terjadi di seluruh Indonesia dengan kerugian negara mencapai Rp6,5 triliun dan suap Rp 211 miliar. Jumlah tersangkanya adalah mencapai 1.298 orang.

Data tersebut jika dibandingkan tahun 2016, penanganan kasus korupsi tahun 2017 mengalami peningkatan signifikan. Terutama pada aspek kerugian negara, yakni pada tahun 2016, kerugian negara dari 482 kasus korupsi mencapai Rp1,5 triliun. Angka ini naik menjadi Rp6,5 triliun pada tahun 2017.

"Apakah korupsi uang triliunan rupiah itu tidak mengorbankan orang tak berdosa (rakyat)? Olehnya, korupsi itu harus lawan," tegasnya.

Kejahatan kedua katanya, adalah narkoba. Pengaruh narkoba sangat dahsyat karena mengancam masa depan generasi muda bangsa ini. Mulai dari anak-anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai dewasa banyak yang jadi korban narkoba. Pelakunya siapa? Pemasok barang haram itu dari negara mana? Anak bangsa sendiri yang menjadi dracula, penghisap darah saudara sebangsanya.

Teddy menilai, tindakan menangkap, menembak, menghukum para pelaku tidak akan menyelesaikan masalah, jika negara pemasok tidak ditutup dan pemodalnya tidak tidak di tangkap.

Berdasarkan rilis Badan Narkotika Nasional (BNN), Jumat 19 Januari 2018 yang dikutip Kompas.com menyebutkan, bahwa sepanjang tahun 2017, BNN bersama Polri dan Bea Cuka telah menangani 43.000 kasus narkoba di Indonesia dengan tersangka sebanyak 50.000 orang.

Barang bukti narkoba yang disita sebanyak 4,7 ton. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan dengan sitaan tahun 2016 yang hanya 3,6 ton.

"Meningkatnya jumlah kasus narkoba menjadi ancaman serius bangsa kita karena yang jadi korban adalah orang tak berdosa, generasi bangsa kita? Olehnya, narkoba itu harus di lawan," tegas Teddy.

Kejahatan ketiga katanya, adalah terorisme. Latar belakang terorisme dan tujuan mereka cukup jelas. Sebagian besar mereka yang terjerumus paham teroris ini berlatar belakang ekonomi lemah, susah hidup, biaya pendidikan tidak terjangkau, biaya kesehatan cukup sulit, untuk mendapatkan pekerjaan susah dan lain-lain. Sehingga, dalam kondisi menghadapi permasalahan hidup seperti itu, mudah sekali masuk paham-paham radikal, ajaran sesat kemudian mereka menjadi teroris.

Teddy mengatakan, tidak bisa kita pungkiri, bahwa kesenjangan sosial di Indonesia cukup tinggi. Lahan masyarakat dirampas untuk kepentingan pemodal dengan berbagai alasan. Nah, ketika rakyat mengjadapi masalah seperti yang disebutkan di atas, siapa yang bertanggungjawab?

Tekanan ekonomi sangat berpengaruh pada mental spiritual seseorang. Ketika kesenjangan sosial kelihatan di mata mereka yang sulit hidup. Pasti muncul pemikiran untuk melawan dengan berbagai macam cara. Setelah menyaksikan aksi terorisme, yang ada di benak kita adalah hancurkan mereka, singkirkan mereka, habiskan mereka, hukum mati mereka. Semua mereka yang salah. Betul, mereka memang sangat salah ketika mereka meledakan bom tak kenal tempat, tak kenal sasaran. Mereka pun menyerang Polri karena dalam pikiran kelompok teroris, Polri menghambat tujuan mereka yang didoktrin. Bagi mereka yang terdoktrin, siapapun yang tidak sependapat dengan mereka adalah musuh dan pantas dibunuh. Kebenaran itu hanya milik mereka.

Berapa banyak yang kemudian sadar dan kembali kejalan yang benar? Ada, tetapi masih banyak yang belum sadar. Berapa banyak yang kemudian terdoktrin? Siapa yang bertanggungjawab agar doktrin sesat, ajaran sesat itu merambah?

Teddy menuturkan, Undang-Undang (UU) sangat penting di negara hukum Ini. Namun isinya bukan hanya penegakkan hukum saja. Tetapi penting melakukan upaya pre-emtif (pembinaan atau cegah dini), dan ini merupakan tugas seluruh elemen bangsa. Selain itu adalah upaya preventif (pencegahan), dan ini merupakan tugas dari beberapa elemen bangsa. Terakhir adalah penindakkan yang kemudian kembali pada pembinaan yang stimulan.

"Jangan saling menyalahkan. Tetapi mari kita bersatu cari solusi dan solusi pemerintah sebagai pelaksana Allah didunia ini yang mengendalikan dan memotorinya," kata Teddy sembari menambahkan inilah tiga persoalan bangsa yang sangat penting kita hadapi dan harus dikerjakan dengan baik dan benar.
 
Kepentingan negara dan rakyat di atas segalanya. Tiga kejahatan kemanusian ini harus jadi musuh bersama dan harus dilawan. Akhir kata tak ada gading yang tak retak, tak ada kesempurnaan di manusia. Segala yang sempurna adalah milik Allah.  


Editor: Udin Salim