Thursday, 16 August, 2018 - 20:12

Tim DP3A Dampingi Korban Penyekapan

Sukarti. (Foto: Michael Simanjuntak/ Metrosulawesi)

Kapolres: Korban tak Pernah Melahirkan

Palu, Metrosulawesi.com - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulteng mengirim tiga orang tim pendamping bagi korban penyekapan bernama H alias As (28) di Tolitoli.

“Siang nanti (kemarin,red) tiga orang tim pendamping DP3A Sulteng akan berangkat ke Tolitoli untuk mendampingi korban,” ujar Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak DP3A Sulteng Sukarti kepada Metrosulawesi, Selasa, 7 Agustus 2018.

Sukarti menjelaskan tiga orang tim pendamping yang dikirim terdiri atas dua orang dari Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TPA) dan satu orang untuk pendampingan psikologis korban.

Tim pendamping tersebut akan berada di Tolitoli hingga 4 hari kedepan yang difokuskan untuk pemulihan psikologis korban. Tim pendamping juga akan memberikan pencerahan kepada keluarga korban agar bisa menerima kejadian yang menimpa H alias As.

“Mudah-mudahan dengan kehadiran tim pendamping DP3A Sulteng bisa memberikan semangat baru kepada korban dan tentunya pencerahan kepada keluarga korban. Sebenarnya korban mau dibawa ke Palu, tapi karena harus mengikuti pemeriksaan di Polres Tolitoli, makanya tim kami yang kesana,” ucap Sukarti.

Dia menuturkan secara pribadi dan institusi turut prihatin dengan kejadian yang dialami H alias As. Kejadian tersebut menurut Sukarti merupakan tindakan keji yang dilakukan pelaku terhadap korban. 

“Perbuatan yang dilakukan pelaku terhadap korban sangat keji, kami turut prihatin, dari itu kami turunkan tim pendamping,” tuturnya.

Sukarti berharap aparat penegak hukum bisa memberikan sanksi terberat sesuai tindakan yang dilakukan. DP3A kata dia akan mengawal kasus penyekapan terhadap korban agar pelaku mendapat hukuman setimpal. 

Dia menambahkan dalam kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, DP3A telah telah bekerjasama dengan aparat Kepolisian dan Kejaksaan. DP3A Sulteng dan DP3A Tolitoli akan berkoordinasi mengawal kasus yang dialami H alias As.

“Kami minta pelaku harus dihukum seberat-beratnya agar menjadi efek jera, apalagi kasus penyekapan ini menyita perhatian publik,” tandas Sukarti. 

Kapolres Tolitoli AKBP M Iqbal Al Qudusy menegaskan bahwa informasi terkait korban penyekapan selama 15 tahun tidak benar dikatakan pernah melahirkan sebanyak delapan kali.

Polres Tolitoli telah menetapkan tersangka atas kasus penyekapan yang telah terjadi selama 15 tahun, dilakukan Jago (83) kepada seorang perempuan berinisial HS (28) di salah satu gua batu di Desa Bajugan, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, kata Iqbal, di Palu, Senin 6 Agustus.

Pada awal disekap, usia HS baru menginjak 13 tahun, tepatnya tahun 2003 dan kemudian baru ditemukan pada Minggu (5/8) lalu.

Kapolres menjelaskan bahwa saat diinterogasi, pelaku menyebutkan bahwa aksinya itu bermotif persetubuhan di bawah umur.

"Caranya HS disugesti dengan foto laki-laki yang diberi nama Amrin," kata Kapolres itu pula.

Selama dalam penyekapan kurun waktu 2003 hingga 2018, kata Kapolres, korban sempat beberapa kali mengalami terlambat datang bulan dan selalu diberi ramuan.

Kapolres berpesan kepada seluruh masyarakat khususnya di Tolitoli, agar tidak mudah percaya dengan isu-isu miring yang berkaitan dengan kasus tersebut.

"Kasus ini sudah ditangani pihak kepolisian dan akan dilakukan penyidikan secara profesional," katanya pula.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sulteng Sofyan Farid Lembah meminta kapolsek bertindak cepat mengungkap kasus ini dan memberi perlindungan hukum kepada korban dan keluarganya.

"Ombudsman memberi perhatian penuh berupa pengawasan penanganan kasus ini, agar tertangani secara baik sesuai kepentingan hukum dan kepentingan terbaik bagi korban," ujar Sofyan. (mic/ant)

 

Editor: Udin Salim