Saturday, 22 September, 2018 - 15:29

TJSP Donggi Senoro Sasar Perempuan, Petani dan Nelayan di Banggai

PRESENTASI - Ketua Koperasi Boune Posaanguan Banggai, Marma mempresentasikan tentang koperasi yang dipimpinnya di stan PT DSLNG pada Sulteng Expo, Senin 16 April 2018. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - PT Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG) melalui program corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan (TJSP), sejak 2017 membangun pola kemitraan dengan tiga koperasi di tiga kecamatan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Melalui koperasi, perusahaan yang mengolah gas alam cair di Kabupaten Banggai ini berkontribusi membangun perekonomian masyarakat di kabupaten tersebut dengan menyasar petani, nelayan, dan kelompok perempuan.

Tiga koperasi yang menjadi mitra binaan program TJSP DSLNG yakni: koperasi microfinance “Boune Posaanguan Banggai” di Kecamatan Batui; koperasi perikanan “Mitra Bahari Bakinbo” (Kecamatan Nambo); dan koperasi pertanian “Momposaangu Tanga Nulipu” di Kecamatan Kintom.

Pola kemitraan DSLNG dengan tiga koperasi tersebut dipresentasikan kepada pengunjung Sulteng Expo 2018 yang berlangsung di Sirkuit Panggona, Palu, 13-17 April 2018. Stan DSLNG, satu dari puluhan perusahaan yang meramaikan Sulteng Expo yang digelar dalam rangka memperingati 54 tahun berdirinya Provinsi Sulawesi Tengah.

Ketua Koperasi Boune Posaanguan Banggai, Marma ditemui di lokasi Sulteng Expo mengungkapkan, koperasi simpan pinjam yang dipimpinnya ini adalah wadah kerja sama yang penghimpunan dana atau simpanan serta pemberian pinjaman kepada anggota koperasi. Sesuai namanya dalam bahasa masyarakat setempat, koperasi ini digerakkan oleh para perempuan dan bertujuan pemberdayaan perempuan di Kabupaten Banggai.

Dia menjelaskan, koperasi ini dibentuk sebagai  penguatan kelembagaan sepuluh kelompok swadaya masyarakat (KSM) yang juga mitra TJSP DSLNG. KSM microfinance (keuangan mikro) tersebut masih level desa.

“Awalnya ada 10 kelompok kecil (KSM) dengan modal terbatas,” kata Marma, Senin, 16 April 2018.

Data DSLNG, 10 sepuluh microfinance yang digeluti para perempuan tersebar di 6 Desa/ kelurahan yakni Desa Uso, Desa Honbola, Kelurahan Lamo, Desa Kalolos, Desa Tangkiang dan Babang Buyangge. Kelompok-kelompok ini telah berdiri sejak tahun 2013. Pada Agustus 2017, jumlah dana simpanan pada sepuluh kelompok microfinance tersebut telah mencapai Rp 352.786.000.

“Masing-masing  kelompok ini terdiri dari 18 sampai 40 lebih orang anggotanya. Setiap minggunya, dilakukan pertemuan dengan pihak CSR Donggi Senoro, diberikan pendampingan,” kata Marma, ibu rumah tangga asal Kelurahan Lamo, Kecamatan Batui, Banggai, Sulawesi Tengah.

Dari situ, kata Marma, selanjutnya Donggi Senoro memberikan motivasi kepada 10 kelompok agar digabung menjadi satu wadah yakni koperasi. DSLNG kemudian memberikan bantuan di antaranya modal awal Rp50 juta pada tahun 2017. Koperasi yang saat ini beralamat di resmi berdiri 8 Agustus 2017.

“Koperasi ini didirikan dengan modal dari Donggi Senoro (PT Donggi Senoro Liquefied Natural Gas). Kami diberikan suntikan dana Rp50 juta. Dana itu digunakan untuk memberikan pinjaman modal kepada anggota koperasi yang berwirausaha. Ada juga yang meminjam untuk kebutuhan pendidikan anak,” kata Marma, perempuan 45 tahun ini.

Dengan adanya koperasi ini, kata dia maka akses permodalan yang lebih mudah dan cepat. Masyarakat semakin antusias memanfaatkan koperasi sebagai lembaga keuangan mikro dalam mengembangkan usaha di antaranya usaha kuliner.

“Pada awal pembentukan masih 24 orang. Sekarang jumlah anggota mencapai 57 orang, sudah termasuk pengurusnya. Setiap anggota punya simpanan pokok Rp100 ribu. Dan simpanan wajib Rp25 ribu setiap bulan dibayar oleh anggota.” katanya.

Menurutnya, saat ini peminat yang ingin meminjam modal di koperasi yang dipimpinya terus bertambah. Namun, karena modalnya masih terbatas sehingga pinjaman dibatasi maksimal Rp 2 juta.

“Sekitar Rp 2 juta. Dikembalikan dengan cara diangsur selama sepuluh bulan. Setiap bulan dibayar Rp240 ribu sehingga kalau lunas totalnya Rp2.400.000,” urainya.

Dia optimistis koperasi yang dipimpinnya ini akan terus berkembang di bawah binaan program TJSP DSLNG. “Saya juga terus belajar di koperasi. Kami selalu ada pembinaan dari pihak Donggi Senoro,” jelasnya.

Selain koperasi microfinance, DSLNG juga membina koperasi nelayan atau koperasi perikanan bernama Mitra Bahari Bakinbo di Kecamatan Nambo. Sama dengan koperasi Boune Posaanguan Banggai, awalnya koperasi ini dibentuk sebagai penguatan 20 kelompok swadaya masyarakat (KSM) perikanan yang legalitasnya masih level desa.

Saat dipresentasikan di Sulteng Expo, jumlah anggota koperasi yang pendiriannya diinisiasi pada 2017 sudah mencapai 42 orang. Begitu pula koperasi pertanian Momposaangu Tanga Nulipu di Kecamatan Kintom yang juga binaan TJSP DSLNG. Koperasi ini dibentuk atas dasar penguatan kelembagaan 20 KSM mitra TJSP DSLNG. Jumlah anggota koperasi saat ini mencapai 24 orang. Bahkan, untuk akses pemasaran, koperasi pertanian ini telah menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan yakni CV Nusantara Jaya, Klaten untuk komoditas arang batok kelapa; PT MNS, Luwuk untuk penjualan kopra; dan pengusaha cabe dari Gorontalo.

External Communication Supervisor PT DSLNG Doty Damayanti mengemukakan, DSLNG meyakini bahwa sumber daya alam merupakan berkah yang harus dikelola dengan bijaksana untuk memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan. Salah satunya, kata dia melalui komitmen pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (TJSP) yang dapat membantu peningkatan kesejahteraan dengan menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

“DSLNG memulai program TJSP di tahun 2008 melalui tahap yang cukup panjang. Sejak itu, kami mengenalkan program TJSP yang berbasis pemberdayaan. Program TJSP dilaksanakan pada lima sektor utama yaitu  pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, infrastruktur publik, dan lingkungan, dan telah menyentuh masyarakat di 22 desa di sekitar lokasi proyek yang berada di wilayah Kecamatan Batui, Kintom, dan Nambo,” jelas Doty Damayanti melalui keterangan tertulis yang diterima Metrosulawesi, Selasa 17 April 2018.

Dalam menyusun, merancang dan mengimplementasi program TJSP, DSLNG mengacu pada berbagai regulasi di dalam negeri maupun praktik terbaik yang diakui global, sebagai persyaratan beroperasinya proyek pengolahan gas alam cair. Di samping peraturan dan perundang-undangan dalam negeri, DSLNG juga terikat pada standar yang disyaratkan oleh dunia internasional sebagai konsekuensi dari pembiayaan proyek yang berasal dari pinjaman luar negeri.

Selain membina koperasi, program TJSP DSLNG juga telah melaksanakan sejumlah program peningkatan ekonomi masyarakat. Bidang pertanian, misalnya dengan pemberian bantuan bibit dan saprotan (sarana produksi pertanian), pelatihan, pendampingan dan advokasi. DSLNG juga mendorong pembentukan jaringan pasar dari petani untuk petani. Pada pertengahan tahun 2016, terbentuk satu unit pelayanan pemasaran hasil pertanian bernama “Stocking Point Pertanian” dengan anggota kelompok tani. Selanjutnya pada awal tahun 2017 Stocking Point ini telah berhasil mendapatkan pelayanan pinjaman modal awal dari Bank BRI Kecamatan Batui.

“Mulai tahun 2017, proses pembelian dan penjualan hasil-hasil pertanian telah berjalan di Stocking Point. Beberapa produk unggulan lokal yang tersedia di stocking point antara lain  cabai, jagung, arang kelapa dan kopra,” jelasnya.

Begitu pula di sektor perikanan di antaranya dengan pengembangan infrastruktur. Data DSLNG, TJSP bidang inftrastuktur di antaranya perbaikan pasar ikan tradisional Batui dan Samadoya Kintom (2014-2015), perbaikan sanitasi dan saluran air di Pasar Kecamatan Batui dan Kecamatan Kintom (2014-2015), perbaikan akses jalan menuju pasar Batui di Kecamatan Batui (2015), penyediaan sarana penerangan pasar dengan teknologi penerangan menggunakan sumber tenaga matahari (2015), dan hibah mesin pendingin (cold storage) kapasitas 20 ton. DSLNG juga telah memberikan bantuan peralatan dan perlengkapan alat tangkap untuk nelayan setempat sejak 2014.

Tags: