Friday, 22 June, 2018 - 15:14

Tuntaskan “Gurita” Tambang di Poboya

JUMPA PERS - Anggota Komisi VII DPR RI, Ahmad M Ali (kanan) didampingi sejumlah pengurus Partai Nasdem Sulteng saat memberikan keterangan kepada wartawan dalam kegiatan Tour Refleksi Akhir Tahun di atas Bus Partai Nasdem Sulteng, Minggu 31 Desember 2018. (Foto : Eddy/ Metrosulawesi)

Ahmad M Ali: Komisi VII DPR RI Akan Panggil PT CPM

Palu, Metrosulawesi.com - Anggota Komisi VII DPR RI Ahmad M Ali masih menaruh tandatanya atas izin PT Citra Palu Mineral (CPM) terkait pengelolaan tambang emas Poboya. Dia mencurigai kegiatan pertambangan di Poboya dinikmati sejumlah oknum, sehingga kerusakan lingkungan yang terjadi tidak mendapat perhatian serius dari Pemda maupun kepolisian.

Ahmad Ali kepada sejumlah wartawan saat refleksi akhir tahun Minggu 31 Desember 2017 mengatakan, sulit untuk membantah tidak ada kelompok atau oknum tertentu yang melindungi Poboya, karena secara nyata terlihat kerusakan lingkungan yang parah dan penemuan penggunaan mercuri yang cukup banyak.

“Menjadi tanda tanya besar mengapa kasus kerusakan alam dibiarkan terjadi di Poboya? Padahal itu terjadi secara masif di depan mata kita. Tetapi selama ini selalu dikatakan tidak ada pencemaran lingkungan. Ini pasti ada sindikat yang bermain untuk meraup keuntungan di Poboya, mungkin bagi-baginya bagus,” tegas Ahmad M Ali.

Dirinya tidak ingin menuduh kelompok tertentu, tetapi dia memastikan sepulangnya ke Jakarta nanti akan menuntaskan kasus tambang Poboya. Komisi VII segera memanggil PT CPM dan memeriksan seluruh perizinannya, semua pihak terkait turut dipanggil nanti.

Selama ini PT CPM selaku pemegang kontrak karya belum sampai ke tahap eksploitasi, tetapi kenyataan di lapangan eksploitasi masif terjadi, bahkan penggunaan mercuri marak di Poboya. Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama, begitu besar kerusakan lingkungan di sana. Sayangnya pihak berkompoten untuk menertibkan masalah ini seakan tidak melihatnya.

Diakuinya, “gurita” Poboya mulai menguak saat konjungan Komisi VII DPR RI beberapa waktu lalu. Walaupun tidak berlangsung lama, namun itu cukup memberikan jawaban kondisi sesungguhnya di Poboya.

Sebagai politisi asal Sulawesi Tengah, Ahmad Ali merasa punya tanggungjawab untuk melindungi seluruh masyarakat Kota Palu, karena dampak pemakaian barang beracun di Poboya adalah masyarakat.

Beberapa waktu lalu pihaknya sudah melakukan pemantauan melalui drone, sayangnya drone itu ditembak oleh pihak yang menjaga tambang Poboya, seakan ada yang ingin dilindungi. Maka dari itu sepulang ke Jakarta nanti, komisi VII akan bersidang untuk menyelesaikan kasus di Poboya.

Dia juga sudah mendorong Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk menuntaskan Poboya. Penegakan Hukum (Gakum) KLH sudah bekerja untuk itu, tinggal Komisi VII yang melakukan penguatan, maka dari itu memanggil PT CPM dan pihak terkait merupakan upaya membuka secara terang benderangan yang terjadi di Poboya.

“Kita tidak ingin masyarakat Kota Palu menjadi korban, sementara ada yang menikmati aliran dana di atas penderitaan masyarakat Kota Palu. Saya janji akan tuntaskan persoalan Poboya yang sudah menggurita ini,” tegasnya. (el/edy)


Editor : Udin Salim