Friday, 23 June, 2017 - 11:42

Turunnya Cudy Pimpin Golkar Donggala Dinilai Wujud Gagalnya Kaderisasi

Rusdy Mastura. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Pengamat politik dari Universitas Tadulako (Untad), Slamet Riadi Cante menilai, terpilihnya Rusdy Mastura sebagai Ketua DPD II Golkar Kabupaten Donggala sebagai bentuk gagalnya partai politik dalam mencetak kader-kader berkualitas.

Meskipun Cudy berkomitmen akan memajukan partai sebagai bentuk penguatan politik kedepan, tetapi dengan nama besar dan segala pengalaman politiknya, Cudy menjadi anomali bagi kader lainnya, karena Cudy dianggap tidak pas lagi turun ke level tingkat II.

Slamet juga melihat bahwa Cudy memaksakan diri turun memegang posisi ketua Golkar Donggala sebagai bentuk bargaining posisi dalam rangka mewujudkan keinginan-keinginan politik, baik di level daerah maupun di level nasional.

“Mungkin bagi Cudy memegang partai menjadi penting sebagai alat bargaining posisi untuk kekuasaan kedepan. Tetapi perlu diingat, ini mencerminkan, jika partai politik lemah dalam mencetak kader-kader berkualitas,” kata Dekan FISIP Untad ini.

Ditegaskan Slamet, dalam politik memang tidak ada yang abadi selain kepentingan, jadi apapun keputusan Cudy secara politik itu tidak salah dan sah-sah saja. Karena dengan menjadi pimpinan partai tentunya lebih memiliki ruang untuk dekat dengan kekuasaan.

Lanjut Slamet, menangnya Cudy dalam bursa pemilihan ketua Golkar Donggala bukan sebuah jaminan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Golkar, bahkan kemungkinan hal sebaliknya bisa terjadi.

“Dari sisi image politik tentu berpengaruh pada tingkat kepercayaan Golkar. Publik bisa saja menilai Golkar tidak memiliki kemampuan dalam melahirkan figur berkualitas. Saya pikir ini menjadi tantangan berat bagi Golkar kedepan khususnya di Donggala,” terka Slamet.

Golkar dengan konsep pencitraan yang sudah menapak bagus semenjak merapat ke tubuh pemerintahan, bisa saja tercoreng dengan gaya berpolitik oleh kader-kadernya di daerah. Namun sekali lagi Slamet menegaskan dalam politik sah-sah saja setiap kader menentukan pilihan dan sikap politik masing-masing.

Menurut Slamet, keberhasilan Cudy nanti dapat diukur jika perolehan suara Golkar di Donggala meningkat sesuai ekspektasi yang ditanam Cudy. Karena secara psikologis di tubuh Golkar Donggala sendiri akan terjadi disharmonisasi. Hal itu tentunya berpengaruh pada kerja mesin-mesin politik dalam meraih kepercayaan masyarakat.

“Untuk mengukur keberhasilan Cudy harus dilihat pada hasil kontentasi politik yang akan berlangsung di Donggala. Adanya kader yang tidak terima atas hasil musyawarah Golkar adalah biasa dalam setiap peralihan pimimpin apalagi yang terpilih itu di luar dugaan banyak pihak,” kata Slamet.
 

Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.