Monday, 27 March, 2017 - 02:59

Tutup FPPN 2016, Wali Kota Minta Maaf

Wali kota Palu, Hidayat. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Wali kota Palu Hidayat meminta maaf atas banyaknya kekurangan dalam pelaksanaan Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) 2016. Pasalnya, dirinya sendiri banyak mendapatkan kritikan melalui pesan singkat. Demikian yang diungkapkannya saat menutup FPPN, Senin malam 26 September 2016.

Dia mengatakan meski begitu kritikan yang pedas ini akan menjadi pelajaran berharga untuk Pemerintah kota Palu yang merupakan panitia pelaksana.

"Banyak sekali kekurangan, tapi menjadi pelajaran untuk panitia," ujar Hidayat.

Lebih lanjut Hidayat, dalam setiap kegiatan sudah pasti akan ada kekurangan walaupun begitu ini sudah cukup maksimal.

"Sudah pasti ada kekurangan dan kekhilafan. Apalagi saat pembukaan sempat diguyur hujan, sehingga banyak dari peniup Lalove dan penabuh gimba meninggal kan alat musiknya," kata Hidayat.

Hidayat mengucapkan terimakasih karena siswa telah berkontribusi di FPPN. Kritik yang pedas akan menjadi koreksi. Berharap tahun depan jauh lebih baik.

"Dengan kegiatan ini nantinya mempercepat potensi wisata yang ada di kota Palu. FPPN berlangsung lancar. Karena masuk dalam agenda nasional, agar terus digemakan," ujarnya.

"Walaupun sedikit terdapat kekurangan, masyarakat bisa bernostalgia menaiki kendaraan traditional dokar," tambah Hidayat.

Wakil Wali kota Palu, Sigit Purnomo Said mengatakan kegiatan yang berlangsung sudah terlaksana dengan cukup baik. Mungkin ada kekurangan dan seluruh panitia sudah melakukan pekerjaannya dengan baik, karena Kementrian Pariwisata mengatakan sangat puas, dengan kegiatan yang disuguhkan oleh kota Palu dalam event FPPN.

"Dinas Pariwisata tahun depan full support atas pelaksanaan FPPN," ujar Sigit.

Sigit mengajak agar seluruh masyarakat ikut mendukung, agar event ini menjadi kegiatan yang membanggakan untuk kota Palu.

"Masyarakat harus bisa menjaga objek wisata. Agar menarik wisatawan dari luar daerah. Masyarakat harus ikut membantu menjaga objek wisata agar bisa memberikan kesan bagi pengunjungnya," ujar Sigit.

Dalam kegiatan penutupan tersebut juga dilaksanakan kegiatan modero, penampilan tari dari kabupaten Luwu Utara dari Provinsi Sulsel, dan diacara penutupan di isi dengan penampilan Band Ungu, dan menampilkan penyanyi Ebit G Ade. Kegiatan tersebut juga dipadati masyarakat kota Palu.

Hadiah Marathon Tertunda Karena Pajak

Persoalan pajak, rupanya menjdi penyebab mengapa para atlet pemenang marathon internasional di Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) tidak langsung mendapatkan hadiahnya.

"Iya, benar pemberian bonus kepada pemenang lari marathon di transfer lewat rekening paling lambat dua minggu kedepan. Kami selaku event organizer akan mengupayakan secepatnya pembayaran itu,” kata Stevi, Event Organizer Marathon Internasional kepada wartawan di kantor Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palu, Minggu malam.

Kendalanya kata Stevi, pihaknya harus mendata dan meminta identitas kependudukan atau KTP, serta Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) khusus kategori marathon nasional.

“Dana yang akan dibayarkan itu berasal dari tanggungan APBN, maka pihak kementerian meminta NPWP pemenang. Namun jika NPWP tidak ada pemenang tetap menerima hadiah tetapi ada pemotongan pajak," tutur Stevi.

Bonus atau hadiah yang akan diberikan kepada pemenang berasal dari anggaran Kementerian Pariwisata RI. Juara I Rp 15 juta, juara II Rp 10 juta dan III Rp 7,5 juta.

Meski begitu kata Stevi, anggaran pelaksanaan marathon internasional itu tidak semua menjadi tanggungan Kemenpar, tetapi ada pula bantuan dari pihak sponsor. Sehingga EO memberian hadiah kepada pemenang sesuai dengan disepakati oleh EO.

Dirinya memaparkan, pada pelaksanaan event marathon internasional ini jumlah bonus sebesar kurang lebih Rp 600 juta untuk semua kategori dengan jumlah peserta kurang lebih 700 orang. Meski nominal itu cukup besar, namun Stevi tidak bisa berbuat banyak sebab sumber anggaran itu milik pemerintah pusat dan pihak sponsor. Sehingga dirinya mengimbau kepada seluruh pemenang lari marathon untuk sejenak bersabar dan memahami situasi ini.

Terlepas dari pembayaran bonus pemenang, harus diakuinya banyak kekurangan terjadi. Menurutnya, event marathon ini harus berdiri sendiri. Misalkan ada waktu khusus digunakan yang tidak bertepatan dengan kegiatan lain, sehingga karena kegiatan betul-betul steril.

Stevi mengakui dalam penyelenggaraan marathon internasional tersebut, sedikit mengalami kesulitan karena kurangnya koordinasi.

"Ini kita akan jadikan bahan evaluasi. Singga kedepan jika pihak pemerintah Kota masih ingin event marathon international ini sebagai kegiatan pendukung FPPN tahun depan, kita akan coba kemas sehingga tidak menimbulkan riak," jelasnya.

Kepala Dinas Pemudah dan olahraga (Dispora) Kota Palu Nur Salam membenarkan adanya kekeliruan dalam pelaksanaan event marathon internasional. Pihaknya dipercayakan sebagai koordinator lomba pada kegiatan pendukung FPPN. Sedangkan marathon, Dispora juga dilibatkan sebagai koordinator di daerah, dengan tugas hanya sebatas memfasilitasi tempat maupun mempublikasikan kegiatan tersebut.

"Kedudukan kami hanya mempublikasikan, menyediakan tempat, mengurus administrasi pendaftaran di tingkat lokal. Kalau masalah anggaran dan teknis lainnya itu bukan ranah Dispora," bebernya.
Dengan adanya insiden seperti ini kata Nur Salam, maka akan menjadi catatan dan bahan evaluasi untuk perbaikan kedepan. 


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.