Saturday, 22 September, 2018 - 09:30

Usaha Cemilan Stick Sutera Noni Palu, Modal Rp150 Ribu, Kini Beromset Jutaan

Cemilan Stick Sutera Noni. (Foto : Noni)

Ibu adalah sosok inspirator yang terbaik bagi siapapun, mereka adalah jendela yang siap mengantarkan mereka yang percaya untuk melihat dunia dalam cara pandang yang berbeda.

Hal inilah yang dirasakan oleh pasangan suami istri (pasutri) Antho Sengke dan Theresia Nidya Lasut dua nama yang kini lekat dengan sebuah produk cemilan stik sutera noni. Sebuah produk snack tanpa bahan pengawet yang lahir dari ide kedua ibu mereka.

Antho mengisahkan awal mula usaha mereka ini didasari oleh permintaan ibunya untuk membuatkan sebuah cemilan tanpa bahan pengawet untuk keponakan-keponakannya yang sering datang ke rumahnya di Jalan Kancil kota Palu.

"Jadi mama saya itu dulu buka kios, terus ponakan-ponakan saya suka ambil snack-snack yang rata-rata pakai bahan pengawet, karena khawatir akhirnya mama saya minta ke saya untuk buatkan mereka cemilan yang bebas bahan pengawet dan aman untuk dikonsumsi," kisah Antho yang juga berprofesi sebagai pegawai negeri sipil di Kelurahan Nunu.

Eureka, gayung bersambut, ide sang ibu tadi disanggupi sang Istri, Theresia Nidya Lasut atau yang sering disapa Noni itu ternyata mempunyai sebuah resep warisan sang ibu, yang dulunya berprofesi sebagai seorang pengusaha kue.

Minggu berlalu, acap kali para kemenakan datang, mereka selalu menanyakan cemilan buatan tangan sang paman dan tantenya, yang menjadi cikal bakal ide stik sutera noni sekarang.

Berkembang Karena Jaring Pertemanan

Antho, pria alumnus SMU Negeri 2 Palu ini juga mengungkapkan, selain sosok ibu, teman-teman adalah hal yang punya pengaruh besar bagi produk keroyokan bersama sang istri ini. Adalah Zul, pemilik Raego Cafe yang mengusulkan untuk membisniskan cemilan ini.
 
"Jadi ceritanya tiap minggu kami suka nongkrong di Raego, hampir tiap minggu pasti kita kesana, kita sering bawa cemilan ini kesana, tiap bawa, teman-teman disana suka, datang lagi, habis lagi, datang lagi, habis lagi, akhirnya Kak Zul bilang sudah kalian jual saja di sini," tuturnya.

Tepatnya 14 September 2014 Stik Sutera Noni, akhirnya produk pertama mereka mulai dijual di raego cafe untuk mengamini permintaan teman sekaligus sang pemilik cafe favorit mereka itu.

Berkat jaringan pertemanan jugalah stick sutera noni juga bisa dijumpai di sejumlah cafe dan warkop yang ada di kota Palu, seperti Warkop KPK Olamita, Jalan  Woodward, Kedai Lin's, Jalan Monginsidi, Warkop Mangge Kribo, Wayout Concept Store, Jln. Juanda Palu, Warkop Aweng, Jln. Juanda dan Jln. Sam Ratulangi serta Cafe Byola, Jln. Sudirman depan bank BTN.

Jejaring pertemanan jugalah yang pada akhirnya membuat produk mereka bisa go internasional.

"Kita sekarang lagi menyiapkan untuk dikirimkan ke Hongkong, kebetulan ada teman kita yang bekerja di sana, dia lihat di facebook, terus dia kontak saya, katanya mau pesan buat kesana," katanya.

"Jadi bisa dibilang omset terbesar kami adalah teman-teman kami, karena merekalah yang pada akhirnya menjadi sarana promosi, pangkas-pangkas biaya promo lah," katanya sambil tersenyum.

Hingga saat ini Antho mengungkapkan selama dua bulan berjualan dia dan istrinya, omset mereka sudah mencapai tiga jutaan dengan modal awal Rp 150 ribu.

"Enaklah, tiap minggu terima uang," ujarnya bangga.***

 

Editor : Syamsu Rizal