Thursday, 16 August, 2018 - 20:14

Vaksin MR tak Mengandung Babi

BEBAS DARI ZAT HARAM - Kepala Seksi Bimbingan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Sulteng Andi Cerra Fanti saat menunjukkan kemasan vaksin MR kepada Metrosulawesi, Kamis, 9 Agustus 2018. (Foto: Michael Simanjuntak/ Metrosulawesi)

KOMPOSISI VAKSIN MR:
  • Komposisi MR terbuat dari virus campak strain edmonstan-zagrab dan virus rubella wistar RA 27/3 hidup yang dilemahkan.
  • Virus campak strain edmonstan-zagrab diambil dari sel putih telur.
  • Rubella diambil dari sel stensel puncak plasenta dari pendonor.

Palu, Metrosulawesi.com - Masyarakat se Sulawesi Tengah diimbau tidak perlu khawatir membawa anak atau keluarga untuk mendapatkan layanan vaksin Measles/campak dan Rubella (MR) di Posyandu terdekat.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulteng dr Reny A Lamadjido mengatakan vaksin MR pada intinya bertujuan baik, yaitu untuk mencegah berbagai penyakit terhadap anak umur dari sembilan bulan sampai di bawah 15 tahun. Adapun terkait sertifikasi halal yang sampai saat ini belum tercantum dilabel vaksin MR sepenuhnya kewenangan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Vaksin MR ini sama dengan vaksin lain seperti meningitis yang diberikan kepada jamaah haji. Vaksin maningitis jugakan belum ada sertifikasinya. Perlu juga kami informasikan bahwa vaksin MR sudah banyak digunakan di negara-negara Islam bagian Timur Tengah,” ujar Reny kepada Metrosulawesi, Kamis, 9 Agustus 2018.

Reny menuturkan tidak mempersoalkan kalaupun kemudian ada pihak-pihak yang menolak vaksin MR. Demikian juga sekolah-sekolah yang menolak anak didiknya diberikan vaksin MR. Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten/kota akan terus gencar menyosialisasikan manfaat vaksin MR.

“Kami dari Kementerian Kesehatan akan tetap melaksanakan vaksin MR. Kalaupun ada sekolah yang belum bersedia silakan, kami akan berupaya turun lagi melakukan sosialisasi,” tuturnya.

Di balik pro kontra saat ini, Reny berharap masyarakat harus menyadari manfaat vaksin MR bagi tumbuh kembang anak. Satu hal pasti, pemerintah tidak akan mungkin memberikan sesuatu yang bisa merusak masa depan generasi bangsa. Pemberian vaksin MR murni untuk mencegah anak tertular campak dan rubella.

Campak dan rubella merupakan penyakit infeksi menular melalui saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus campak dan rubella itu sendiri. Campak dan rubella masuk dalam kategori virus menular. Anak dan orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi MR menjadi orang yang berisiko tinggi tertular kedua virus tersebut.

“Makanya dengan pemberian vaksin MR, kita mau mencegah supaya anak-anak kita tidak tertular campak dan rubella. Masyarakat perlu tahu muculnya campak bisa mengakibatkan kematian, sedangkan rubella bisa menyebabkan kecacatan yang dikenal sebagai sindroma rubella kongenital meliputi kelainan jantung, kerusakan jaringan otak, katarak, ketulian dan keterlambatan perkembangan,” tandas Reny.

Kepala Seksi Bimbingan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Sulteng, Andi Cerra Fanti menjelaskan tidak satupun zat yang terkandung dalam komposisi vaksin MR kategori haram. Komposisi MR terbuat dari virus campak strain edmonstan-zagrab dan virus rubella wistar RA 27/3 hidup yang dilemahkan.

“Virus campak strain edmonstan-zagrab diambil dari sel putih telur, kalau rubella diambil dari sel stensel puncak plasenta, tapi bukan plasenta orang meninggal, tidak ada bunuh membunuh, itu plasenta donor. Jadi virus yang dilemahkan diambil dari pengembangbiakan dari plasenta puncak tadi. Komposisinya jelas tidak ada mengandung babi, aman untuk diberikan ke masyarakat,” jelas Andi.

Secara pribadi Andi memaklumi pihak-pihak yang masih menolak mendapatkan layanan vaksin, khususnya pihak sekolah. Namun ada yang mengherankan terhadap sekolah-sekolah yang menolak vaksin MR, dimana setelah diberikan sosialisasi langsung mengizinkan pemberian layanan vaksin.

“Makanya kami akan turun lagi melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah yang masih menolak vaksin MR,” ucapnya.

Andi menguraikan hingga hari kedelapan atau per 8 Agustus pasca imunisasi MR dicanangkan, pemberian vaksin kepada anak 9 bulan sampai di bawah 15 tahun telah mencapai 189.886  cakupan atau 23,48 persen dari total sasaran 808.847 anak di kabupaten/kota se Sulteng.

Cakupan vaksin tertinggi berada di Kabupaten Parigi Moutong sebanyak 25.522 anak (18,8 persen), disusul Donggala 25.382 anak (29,0 persen), Banggai 20.003 anak (21,3 persen), Buol 17.091 anak (34,3 persen), Morowali 15.777 anak (47,7 persen), Sigi 14.187 anak (22,7 persen), Tojo Unauna 13.033 anak (30,0 persen), Poso 11.665 anak (18,8 persen), Palu 11.206 anak (12,7 persen), Tolitoli 10.888 anak (17,0 persen), Banggai Kepulauan 9.815 anak (30,0 persen), Morowali Utara 9.135 anak (27,1 persen), dan Banggai Laut 6.182 anak (28,7 persen).

Imunisasi MR sendiri berlangsung selama dua bulan dan akan berakhir pada 30 September 2018. Gubernur Sulteng H Longki Djanggola saat mencanangkan imunisasi MR telah mengimbau kepada keluarga dan orangtua agar membawa anak balita segera diimunisasi MR di Posyandu terdekat.


Editor: Udin Salim