Saturday, 18 August, 2018 - 03:08

Vera Akui Selama Jadi Wabup Belum Majukan Donggala

KAMPANYE - Pasangan Vegata (Vera Elena Laruni-Taufik M Burhan) saat kampanye menyampaikan visi misi di lapangan sepak bola Toaya, Sindue. (Foto: Ist)

Donggala, Metrosulawesi.com – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Donggala, Vera Elena Laruni-Taufik M Burhan (Vegata), melakukan kampanye akbar, di lapangan sepak bola Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Jumat pekan lalu, 20 April 2018.

Kampanye akbar itu dihadiri koalisi partai politik pengusung Vegata. Dari Partai Golkar, nampak Anggota DPR RI, Muhidin M Said, Ketua DPD Golkar Sulteng, HM Arus Abd Karim, dan bupati Sigi, Mohammad Irwan Lapatta, sebagai koordinator tim pemenangan Golkar wilayah Donggala-Sigi. Ada pula tokoh Golkar yang lain, sebut saja Golkar Sigi, Mohammad Rizal Intjenae, Budi Luhur Larengi, dan Robby Tarro.

Selain itu, Ketua PKPI Sulteng, Ilyas Nawawi, turut menyampaikan orasi pemenangan. Begitu pun dengan Mas’ud Masuara dari Partai Perindo, dan Kaharuddin Kahar dari PKB.

Kemudian tidak ketinggalan tokoh masyarakat Sulteng, Rusdi Mastura, memeriahkan kampanye akbar dengan orasi pemenangannya menuai pro kontra. Begitu juga dengan Tokoh masyarakat pantai barat, Abd Muis, turut meyakinkan masyarakat Sindue memilih pasangan Vegata, pada bursa Pilkada Donggala 2019.

Calon Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, saat menyampaikan orasi politiknya memohon maaf pada warga Donggala, dengan jabatan wakil bupati Donggala yang diemban belum mampu menyelesaikan tugas dengan maksimal. Olehnya, ia meminta masyarakat Donggala memberinya kesempatan memenangkan Pilkada Donggala 2019 ini.

“Kalau dibilang kecewa, saya memang kecewa. Terus dibilang sedih, saya juga sedih, karena seorang perempuan biasa berdiri tegak dihadapan kalian ini belum bisa sempurna ketika niat memajukan Donggala 5 tahun ke depan belum terkabulkan,” ungkapnya.

Vera menambahkan, keinginan maju bertarung di Pilkada Donggala mengajak Taufik M Burhan, diungkapnnya bukan kepentingan diri pribadi. Karena mereka berdua bukan berasal dari keluarga serba berkecukupan. Akan tetapi, niat mereka berdua berkeinginan memberantas garis kemiskinan yang hampir menguasai Donggala.

“Olehnya saya berani menjadi bupati Donggala, karena saya tahu persis Donggala ini. Dan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di sini,” terangnya.

Menurutnya, Donggala merupakan daerah terkaya kedua di Sulawesi Tengah, setelah dari Kabupaten Banggai. Namun yang menjadi pertanyaan dia kenapa Donggala peroleh predikat daerah memiliki angka kemiskinan terbesar di Sulteng. Padahal, penyebaran penduduk pesisir pantai dari Banawa Selatan (Surumana/Watatu) sampai pantai barat (Ogoamas), memiliki bentangan 445 Kilometer pesisir pantai. Artinya, Donggala punya maritim luas. Begitu pun dengan kekayaan alam lain, seperti perkebunan, pertambangan emas, dan lainnya.

“Kita punya semuanya di Donggala, kenapa mesti angka kemiskinan semakin besar. Sehingga Donggala dipandang perlu memiliki pemimpin yang memperhatikan kepentingan masyarakatnya sendiri,” pungkasnya.

 

Editor: Elwin