Tuesday, 21 August, 2018 - 06:31

Volume Sampah Plastik Makin Tinggi, Pemkot ‘Dibantu’ Buaya

PEDULI LINGKUNGAN - Komunitas sampah memilah sampah dalam aksi bersih-bersih di Teluk Palu beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Sampah masih menjadi persoalan utama di Kota Palu. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan pun masih di bawah harapan. Dibutuhkan kerjasama semua pihak untuk mengatasinya.

“Sampah tak akan tertangani dengan baik apabila persoalannya terposisi di tengah-tengah kita,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Deny Taufan.  

Maksudnya, persoalan sampah hingga kini hanya terputar di tengah, di antara banyak pihak seperti Dinas Kebersihan, DLH, Satgas K5, Gali Gasa dan masyarakat. 

Menurutnya, tak bisa melempar tanggung jawab hanya pada pihak tertentu saja. Misalnya menjadi tanggung jawab dinas kebersihan saja, Gali Gasa atau K5 saja, tetapi harus didorong terposisi di depan agar jelas takaran posisi tanggung jawab dan tupoksi pihak yang menanganinya.

“DLH tentu memback-up secara sarana dan prasarana untuk menuntaskan persoalan sampah. Karena jenis sampah dan lokasi pembuangan warga semakin hari semakin bertambah. Ia mencontohkan gundukan bekas bangunan dan potongan pohon yang jika tak diperhatikan, sangat berpotensi membentuk gundukan baru yang bagi warga sekitar dianggap tempat pembuangan umum. 

Khusus sampah plastik, Deny mengacu pada program nasional 3R (reduce, reuse, recycle), yang nantinya membuat pengolahan bank sampah dan mesin kompos di kelurahan akan semakin mudah. Karena bahan yang sampai di tempat pengolahan telah melalui proses 3R tersebut di TPS. 

“Artinya, saat menuju TPA sampah sudah terpilah menjadi yang betul-betul tak bermanfaat. Sedangkan yang menuju pengolahan sampah, betul-betul termanfaatkan,” urainya. 

Ia mengakui adanya mesin pengolahan sampah dan kompos yang belum maksimal operasionalnya di banyak kelurahan. Secara bertahap item ini pun menjadi perhatiannya karena masuk menjadi strategi nasional penanggulangan sampah. 

“Keinginan pemimpin terdahulu dan saat ini, sudah sejalan soal sampah. Itulah yang kini menjadi tugas berat jajaran kami. Termasuk memanfaatkan fasilitas yang ada,” tambahnya. 

Terkait sampah plastik, perlakuannya disamakan. Mengingat kini volume sampah plastik juga semakin tinggi. Pusat pengolahan sampah plastik berbentuk bank sampah, menjadi target utama SKPD-nya.

Ia berharap masyarakat turut terlibat. Tak lagi hanya berpikir praktis dalam membuang sampah. Terutama yang berdiam di pinggir sungai Palu. Tak lagi menjadikan sungai sebagai tempat sampah.

Menariknya, Ia mengakui, meski persentasenya tak banyak. Kini kesadaran akan membuang sampah di Sungai Palu sudah menurun drastis. Selain kesadaran imbas dari sosialisasi penanggulangan sampah masing-masing kelurahan yang berada di pinggir sungai Palu, ada faktor lain yang membuat warga enggan membuang sampah lagi di sungai. 

“Ada buayanya. Jadi mereka takut,” katanya. 

Secara tak langsung, meski tak diinginkan para buaya itu mambantu tugas pemerintah menyosialisasikan gerakan kali bersih. 

Menurutnya, tanggung jawab sampah adalah tanggung jawab bersama. Terutama warga sebagai ‘pencipta’ sampah. Memberi pemahaman terhadap warga adalah yang paling sulit. Membuatnya disiplin dalam mengelola sampah bukan perkara mudah.

Inovasi dari Swalayan

Tak semua swalayan maupun toko ritel besar berbasis franchise di Palu menggunakan kebijakan belanja tanpa tas plastik yang sempat booming secara global. Tak seperti di kota besar lainnya, di awal beroperasi, konsumen diberi pilihan untuk menggunakan kantong kertas, membawa kantong sendiri dari rumah, atau membayar lebih untuk kantong plastik yang disediakan.

“Awalnya seperti itu tetapi karena tak sesuai dengan keinginan konsumen, kami akhirnya tetap menggunakan plastik untuk belanjaan tanpa dipungut biaya tambahan,” ungkap Ivan, Staf HRD di salah satu ritel besar di Jl. Diponegoro Palu. 

Tetapi ia mengklaim plastik belanjaan mereka, diproduksi dengan teknologi khusus yang memungkinkan plastiknya hancur saat berusia di atas satu tahun.

“Ada campuran lain di plastiknya yang membuatnya bisa cepat hancur. Jadi, tidak seperti kantong plastik biasa. Penerapan itu berlaku secara nasional di semua cabang kami,” katanya.      

 

Editor: Udin Salim