Sunday, 30 April, 2017 - 13:28

Error message

  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).

Wali Kota: Bantuan KUBE Harus Tepat Sasaran

Wali Kota Palu Drs Hidayat M.Si saat memberikan pada tatap muka dengan 414 penerima KUBE yang digelar oleh Dinas Sosial Kota Palu di Asrama Haji Palu, Rabu, 5 April 2017. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Wali Kota Palu Drs Hidayat M.Si mengatakan sasaran program pemberian bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) adalah rumah tangga sangat miskin yang disebut Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Pemberian bantuan tersebut  berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2015 yang dikeluarkan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

“Melalui pemberian bantuan KUBE diharapkan keluarga miskin diarahkan untk memiliki sumber penghasilan yg tetap, layak dan berkelanjutan, serta memiliki aset,” kata Hidayat saat tatap muka dengan 414 penerima KUBE yang digelar oleh Dinas Sosial Kota Palu di Asrama Haji Palu, Rabu, 5 April 2017.

“Setelah saya mengevaluasi bantuan sosial selama ini, pelaksanaannya masih banyak tidak tepat sasaran,” ungkapnya.

Hidayat mengungkapkan banyak bantuan sosial seperti alat perabotan dan sejenisnya dijual oleh penerima bantuan. Hal ini sama saja dengan membuang-buang  anggaran.

“Para penerima itu adalah orang yang tidak memiliki usaha, namun sepertinya mereka dipaksakan untuk menerima itu. Inilah yang akan kita ubah,“ tegasnya.

Hidayat meminta  penyaringan ketat bagi 414 penerima KUBE yang tersebar di tiap kelurahan di Kota Palu. Ini dimaksudkan  agar target program KUBE dapat terwujud.

“414 warga inilah yang masuk dalam data TNP2K. Data ini merupakan data real yang diambil melalui pihak kelurahan dan camat setempat,” ungkapnya.

Menurutnya, program KUBE merupakan salah satu solusi pengurangan angka kemiskinan di Kota Palu. Dia meminta seluruh OPD penanggulangan kemisikinan harus menggunakan data TNP2K sebagai dasar pijakan dalam membuat program pengentasan kemiskinan.

“Saya tidak mau dengar ada program yang berbau nepotisme atau bantuan hanya diberikan kepada keluarga atau orang terdekat saja,”tegasnya.

Hidayat berharap peserta KUBE mampu mengembangkan usaha yang dimilikinya. Hal ini membutuhkan pendampingan dari PKH. 

“Kita uatamakan warga miskin yang telah memiliki usaha. Namun , kalau belum ada usaha, maka kami akan bimbing untuk dibuatkan usaha. Setelah penerima itu siap, kami kawal hingga berhasil dan mampu mandiri,” katanya.

“Usaha yang akan mereka kalukan itu akan diidentifikasi secara detail kebutuhannya. Jadi pada pola sebelumnya, model penganggarannya disamaratakan saja. Pola itu tidak lagi akan kita pakai, karena tidak semua usaha itu memiliki modal yang sama,” paparnya.

Hidayat mengaku bahwa anggaran KUBE tidak masuk dalam Rencana Kerja Anggaran 2017.

“Saya hapus anggaran KUBE karena tidak rasional. Jadi anggaran untuk KUBE tahun 2017, saya coret semua, karena tidak jelas.  Sehingga di 2018 mendatang, kalau kelompok penerima KUBE sudah benar dan tepat sasaran,  baru kita akan anggarkan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Sosial Kota Palu, Nursalam mengatakan pembentuk KUBE dilakukan secara terstruktur dan terencana.

“Artinya, kube kami bentuk melalui proses yang matang, yang diharapkan setelah dibentuk dan berjalan, akan berdampak kepada masyarakat,” katanya.

Nursalam mengatakan setelah Kube terbentuk, pihaknya akan melibatkan beberapa OPD terkait untuk memaksimalkan kinerja Kube. “OPD yang terlibat, pertama Dinas Sosial sendiri, Litbang, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, serta Dinas Pertanian.

“Setelah dibentuk, dari Litbang akan menentukan komoditi dan program apa yang cocok dan relevan dengan Kube atau keluarahan itu. Sehingga bantuan tidak hanya kami berikan secara gelondongan. Makanya kami butuh waktu pembentukannya. Dan tiap kelurahan berbeda-beda kebutuhannya,” katanya.

Karena bantuan yang akan diberikan berupa peralatan, kata Nursalam, maka tugas Dinas Perdagangan dan Perindustrian yang akan menyediakan peralatan tersebut.

“Jika Kube tersebut bericara soal lahan pertanian, maka leading sektornya Dinas Pertanian,” katanya.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.