Monday, 23 July, 2018 - 08:18

Walikota: Pembangunan Monumen Budaya Bangsa Diusahakan Dapat Bantuan APBN

Walikota Hidayat saat bertemu panitia Temu Karya Arsitek se Indonesia di kediamannya beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Saat bertemu dengan panitia Temu Karya Arsitek se Indonesia yang akan dilaksanakan di Kota Palu beberapa waktu lalu, Walikota Palu, Hidayat M.Si mengatakan dirinya mengupayakan bantuan dari APBN untuk pembangunan Monumen Budaya Bangsa yang akan digagas oleh arsitek se Indonesia.

“Nanti panitia bersama kami menghadap Presiden RI untuk meminta bantuan pembangunan monumen ini. Insyaallah bisa terlaksana, sehingga sebagian besar anggaran pembangunan monumen tersebut dapat dibiayai oleh pemerintah pusat,” katanya.

Walikota Hidayat menegaskan sudah selayaknya mahasiswa arsitek seluruh Indonesia membangunan karya yang monumental.

“Insyaallah itu akan bermula di Kota Palu. Sudah berapa kali kawan-kawan arsitek se Indonesia melakukan temu karya, namun sampai saat ini belum menghasilkan sebuah karya yang monumental. Insyaalah, hal ini dapat terwujud di Kota Palu,” katanya.

Walikota Hidayat menginginkan Monumen Budaya Bangsa yang kemungkinan besar akan dibangun oleh arsitek se Indonesia di Kota Palu tersebut secara filosofis mengandung nilai-nilai budaya bangsa.

“Di Kota Palu ini kita tidak hanya membangun akar budaya Kaili, namun mencoba membangun kembali akar budaya bangsa. Jika Pancasila di peras, maka ada tiga nilai yang terkandung di dalamnya yakni toleransi, kekeluargaan dan kegotongroyongan. Nah, ditengah monumen tersebut harus mencerminkan tiga unsur tersebut,” jelasnya.

Walikota Hidayat mengungkapkan tiga nilai budaya bangsa tersebut juga merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam masyarakat To Kaili.

“Tiga nilai budaya bangsa yang tercermin dalam monumen tersebut diapit oleh nilai-nilai lokal yang ada di Kota Palu, yakni pada sisi utara monumen lebih ditonjolkan aspek pendidikannya, sisi barat ditonjolkan aspek religinya, sisi timur ditonjolkan aspek lingkungannya, dan sisi selatan  ditonjolkan aspek patriotismenya,” jelasnya.

Kata dia, dalam pembangunan sebuah monumen terkandung dua unsur, yakni filosofi dan historis.

“Misalnya pembangunan Monumen Bung Karno di Taman Gor, karena Bung Karno pernah berpidato disitu dalam rangka konsolidasi Permesta pada 2 Oktober 1957. Nilai historis inilah yang kita angkat. Terutama dalam pidato beliau yang mengatakan Kota Palu itu bagaikan rangkaian mutiara di khatulistiwa,” ungkapnya.

“Mutiara yang dibilang Bung Karno tersebutlah yang saat ini Pemerintah Kota Palu itu bangun, agar rangkaian mutiara yang dikatakan Bung Karno tersebut bisa tampak di Kota Palu,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata Walikota Hidayat, keinginan Pemkot Palu untuk membangun Monumen Budaya Bangsa di Kota Palu yang dipercayakan kepada para arsitektur tersebut harus bisa menggali unsur-unsur budaya bangsa dan lokal.

“Kita usahakan site plan monumen tersebut selesai tahun ini. Jangan berpikir dulu pembebasan lahannya, jika sudah ada konsep pembangunannya dari kawan-kawan arsitektur, pembebasan lahannya pasti akan kami lakukan,” jelasnya.