Saturday, 22 September, 2018 - 05:25

To Wana, Bersama Alam Membangun Peradaban

Anak-anak suku Wana di pedalaman Kecamatan Mamosalato. (Foto : Dok MS)

ALAM dalam mitologi Islam adalah salah satu perwujudan realitas kehidupan manusia. Manusia dan makhluk lainnya tidak hanya berada dalam alam, tapi juga bersama alam itu sendiri. Dalam kebersamaan itu, Tuhan berseru kepada manusia untuk terus menjaga alam dan senantiasa belajar dari sifat dan gejala pada alam dalam menjalani kehidupan untuk menemukan kebenaran hakiki.

Mungkin inilah dasar Tau Taa Wana dalam mengelola alam disekitar mereka. Menjadikan alam seperti kekasih. Mencintainya dengan kadar cinta yang tak terhingga.

Sekilas Tentang To Wana

Tau Taa Wana atau To Wana adalah komunitas adat yang bermukim di lembah dan bukit-bukit di sepanjang aliran sungai Bongka. Tidak ada data yang pasti berapa jumlah populasi mereka. Tapi menurut data yang dilansir oleh Kementerian Sosial RI, jumlah suku Wana sekitar 3.492 KK, yang tersebar di 23 lokasi wilayah Kecamatan Ampana Tete dan Ulu Bongka, Kabupaten Tojo Una-Una dan Kecamatan Bungku Utara dan Mamosalato, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, masyarakat adat Wana sudah hidup bergenerasi. Mereka sudah terbiasa hidup harmoni bersama alam. Dilayani dan melayani alam. To Wana memiliki pola kearifan tertentu dalam mengelola alam khususnya hutan. Bagi mereka, hutan adalah ibu yang memberi mereka kehidupan.

Patuh Pada Larangan

To Wana, berpegang teguh pada adat istiadat, yang mereka yakini dan sudah diwariskan oleh nenek moyang mereka sejak turun temurun, misalnya membuka lahan baru, sudah ada ketentuan yang tidak bisa dilanggar. Mereka memiliki konsep tata kelola hutan yang sarat dengan etika konservasi. Serta melembagakan hukum-hukum atau norma-norma adat untuk mengatur hubungan sosial antar manusia termasuk hubungan manusia dengan alam.

Dalam mengelola hutan, mereka membagi hutan dalam beberapa klasifikasi tertentu. Daerah Pangale misalnya, adalah hutan rimba yang belum diolah untuk perlindungan mata air dan kesuburan tanah. Ada juga area hutan tempat mencari damar, gaharu, madu dan rotan. Wilayah hutan lainnya disebut Pangale kapali atau Hutan terlarang. Wilayah hutan ini tidak bisa dimanfaatkan atau diolah.

Dalam membangun peradabannya, To Wana hidup dalam tatanan hukum adat yang ketat, namun dalam kebersahajaan dan kearifan tradisional yang lekat. Kapali (larangan) adalah kata yang ampuh bagi To Wana. Karena menurut mereka kapali mengandung amanah, wasiat dan akibat. Falsafah hidup kapali ini dijadikan pegangan hidup sehari-hari. Hal itu bertujuan agar mereka bisa hidup harmonis bersama alam penuh damai.

Peradaban lainnya yang masih ada hingga saat ini adalah, pengetahuan pengobatan tradisional yang bahan-bahannya sebagian besar berasal dari hutan. Beberapa praktek pengobatan yang terkenal adalah menggunakan goraka untuk mengobati penyakit muntaber.

Untu satu lingkungan komunal, To Wana menyebutnya Lipu. Lipu-lipu ini kebanyakan berada di lembah dan pegunungan yang berbukit. Lipu biasanya terdiri dari 5 hingga 20 banua (rumah) setinggi 1 hingga 3 meter. Untuk mencapainya, mestilah mengitari bukit-bukit itu dengan berjalan kaki melalui jalan setapak dan terjal.

Seiring perkembangan zaman, ketika peradaban modern mengepung kehidupan manusia,  To Wana terus berjuang mempertahankan identitasnya. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari perilaku mereka.

Ditengah kehidupan yang kian kerontang ini, To Wana sudah membuktikan kepada kita bahwa bersama alam mereka mampu membangun peradaban.