Thursday, 23 November, 2017 - 06:15

Warga Morut Enggan Beralih ke Elpiji

ILUSTRASI - Elpiji 3 kg. (Foto : rmol.co)

Kolonodale, Metrosulawesi.com - Konversi minyak tanah ke elpiji di Morowali Utara tidak berjalan mulus, pasalnya, hingga saat ini sebagian warga di Kabupaten Morowali Utara (Morut) masih lebih memilih menggunakan minyak (mitan) tanah dibandingkan harus beralih ke elpiji, salah satu penyebabnya adalah harga elpiji yang terus naik.

Meskipun sosialisasi terkait keuntungan menggunkan elpiji kerap kali dilakukan, namun warga masih saja lebih memilih minyak tanah yang dianggap jauh lebih aman penggunaannya.

Konversi minyak tanah ke gas elpiji bagi warga Kabupaten Morout kurang diminati karena selain harga gas elpiji yang terus mengalami kenaikan, juga dianggap berbahaya.

Seorang ibu rumah tangga di Desa Ganda-ganda, Djana mengaku masih menggunakan minyak tanah untuk keperluan dapur, karena menurutnya penggunaan minyak tanah jauh lebih mudah dan aman.

Meskipun telah menerima pembagian elpiji 3 kilogram, namun ia mengaku enggan untuk menggunakannya.

“Jika pemerintah telah menghentikan peredaran minyak tanah di daerah ini baru akan terpaksa menggunakan gas elpiji 3 kilogram yang sebulan lalu mulai dibagikan di Kolonodale dan sekitarnya,” kata Djana.

“Kami lebih baik menggunakan kompor yang diisi minyak tanah daripada menggunakan gas elpiji yang dalam sosialisasi oleh Dinas Energi dan Sumberdaya  Mineral Daerah Provinsi Sulteng begitu banyak petunjuk aman menggunakan tabung gas elpiji 3 kilogram  tersebut,” jelasnya.

Susan, warga Desa Beteleme juga mengaku belum menggunakan elpiji, ia mengatakan, sejak didatangi untuk pendataan dan menerima bantuan tabung gas elpiji 3 kilogram, ia sudah menolak dengan alasan lebih baik menggunakan kompor minyak tanah, “Dan apabila tidak ada minyak tanah, masih dapat menggunakan kayu bakar,” katanya.

Sejumlah pangkalan minyak tanah di Morut juga mengaku akhir-akhir ini kebutuhan minyak tanah terus meningkat, khususnya selama Ramadhan menghadapi lebaran. Bahkan sejumlah warga sengaja membeli cukup banyak minyak tanah yang kemudian dikirim untuk sanak saudaranya di Kota Palu.

Seorang mahasiswa perguruan tinggi di kota Palu, Jufry L mengaku sulit mendapatkan minyak tanah di Kota Palu, olehnya ia selalu minta dikirimi dari Morut untuk kebutuhan selama di Kota Palu.

“Sebagian besar mahasiswa masih terus bergantung ke minyak tanah, cukup lama memakainya ketimbang gas elpiji,” tutur Jufry L.


Editor : Tahmil Burhanuddin Hasan

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.