Thursday, 20 September, 2018 - 21:09

Zonasi Harus Diimbagi Peningkatan Mutu Sekolah

Dr Asep Mahpudz. (Foto: Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Pengamat Pendidikan Kota Palu Dr. Asep Mahpudz mengungkapkan penerapan sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah-sekolah, termasuk yang berada di Kota Palu, harus diimbangi dengan peningkatan mutu secara merata di tiap sekolah, baik mutu SDM maupun sarana dan prasarananya.

Hal ini menurut Asep, dari perspektif mutu, sistem zonasi tidak serta merta langsung meningkatkan mutu sekolah, karena ada aspek penting lain, yakni sisi tenaga pendidik. Konsekuensi penerapan zonasi, kata Asep, penguatan mutu para guru harus terus ada di tiap wilayah-wilayah zonasi yang ditetapkan.

“Misalkan ada SMPN yang selama ini menjadi favorit, sementara ada anak yang rumahnya tidak berada di zonasi sekolah tersebut, dan mendaftar di sekolah lain sesuai zonasinya, maka mutu guru-gurunya harus sama dengan yang di sekolah favorit tadi,” kata Asep di Palu, Selasa, 10 Juli 2018.

Saat ini, kata dia, masih ada beberapa guru di daerah-daerah pinggiran Kota Palu yang belum tersentuh pelatihan-pelatihan, sehingga berakibat pada layanan mutu yang agak minim. 

Meski begitu, Asep mengatakan bahwa penerapan sistem zonasi sebagai ikhtiar layanan penyelenggaraan pendidikan yang bertujuan memajukan semua sekolah secara sama, dilihat dari unsur kewilayahannya.

“Misalnya sekolah-sekolah di antara Tondo, Watusampu, Layana, sehingga nanti tumbuh dan berkembangnya bersama-sama. Dari sisi itu, maka perspektif zonasi sangat menguntungkan untuk sekolah-sekolah di daerah pinggiran, karena menerima siswa yang relatif sama dengan sekolah favorit selama ini, yang pada gilirannya bisa meningkatkan mutu layanan di masing-masing sekolah,” ujarnya.

Terkait adanya sekolah yang masih kekurangan siswa baru, Asep mengatakan hal itu dikarenakan pendaftaran sistem zonasi, utamanya di sekolah-sekolah yang lokasinya berdekatan, sehingga zonasinya saling beririsan. 

Dia menyarankan agar pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk melonggarkan dulu penerapan zonasinya, agar daya tampung sekolah bisa terpenuhi.

“Saran saya untuk yang program cepat, bagi yang kosong, silakan saja dibuka zonasinya, tetapi harus ada komitmen dari orang tua untuk memperhatikan anaknya,” ujarnya. 

Kedepan, kata Asep, pemerintah juga harus terus berupaya mengenalkan penerapan zonasi kepada masyarakat, untuk dapat membentuk perspektif positif dari masyarakat terkait sistem yang baru diterapkan dua tahun belakangan ini di Kota Palu.

Menurutnya, sistem zonasi saat ini bisa dianggap baik, dan bisa juga dianggap tidak baik. 

“Dianggap baik dari perspektif pemerintah, tetapi dari perspektif masyarakat menimbulkan beberapa kegelisahan, karena ada sekolah yang menumpuk siswanya dan ada pula sekolah yang siswanya tidak menumpuk,” katanya.

“Intinya mendorong sekolah-sekolah bisa bermutu bersama, sistem zonasi mestinya harus didorong dengan peningkatan mutu bersama. Jadi perspektifnya pada mutu guru dan mutu layanannya. Sejauh ini saya melihat, di beberapa SMP ada pengadaan sarana dan prasarana oleh pemerintah, hal itu adalah upaya yang bagus,” jelasnya. 

 

Editor: M Yusuf Bj